Tuesday, December 31, 2013




Book Review Contest "Seribu Kerinduan"


Ini adalah kisah cinta Renata dan Panji yang harus berakhir karena Panji dijodohkan dengan wanita pilihan Ibunya, yang sesuai dengan bibit, bobot dan bebet. Renata harus menjalani hidupnya sendiri lagi tanpa Panji, setelah 4 tahun memadu kasih. 



Kehilangan kekasih, dipecat dari pekerjaan impiann yang telah dijalaninya selama 5 tahun membuatnya despresi,hingga memilih pekerjaan yang tidak akan disangka oleh orang yang mengenal dirinya sebagai wanita cantik, berbakat nan cerdas ; melacur.

Kegiatannya melacur itu menghasilkan uang yang cukup besar. Tapi Renata tidak melakukannya hanya demi uang, itu semata untuk mengisi kesepiannya supaya dia merasa kembali dicintai, dihargai, dibutuhkan dan dipuja-puja. Namun Panji tetap mengisi ruang pikiran dan hatinya. Bahkan Renata berusaha menyusuri kembali tempat-tempat dimana dia dan Panji pernah bersama.

Mbak Herlina P Dewi penceritaannya mengalir banget dan sangat enak dibaca. Membuat ketagihan sehingga tidak bisa berhenti membaca sebelum tamat.  Seribu kerinduan malah bukanlah kalimat yang dicetuskan Renata, sang tokoh utama, tapi dari Panji yang mengirimkan Seribu kerinduan padanya.

Kata "Disini aku duduk dan menunggu" mengingatkanku pada novel Paulo Coelho "Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis"

Dan aku paling suka puisi yang ada di novel ini, sampai hapal halaman berapa. Kalimatnya puitis banget. Halaman 183 :

Disini aku duduk dan menunggu...
Hujan malam ini membuat air mataku terasa sangat dingin. Semoga air mataku ini mengalir sejauh-jauhnya, agar kekasihku tak pernah tahu bahwa suatu malam aku pernah menangis untuknya.
Semoga air mataku ini mengalir sejauh-jauhnya, agar semua malam mengabur dalam gelapnya.
Aku ingin melupakan semua kesunyian malam ini, itulah sebabnya aku menulis, agar aku bisa mengubah senyap menjadi rindu, gelap menjadi kenangan, dan beku menjadi cinta.

April 2014 aku ikutan Lomba Cover dari Queto novel Seribu Kerinduan :




                Hadiahnya : Kalung Etnik cantik, notebook Perancis dan A Cup of Tea Menggapai Mimpi \(^o^)/




The Last Snow di Yogyakarta
Oleh : Lidya Renny Chrisnawaty


“Aku tahu akan menemukanmu disini lagi.”
Flo mendongak lalu mengeryit, berusaha mengenali sosok pria tampan berwajah oriental yang tersenyum kepadanya. Sedikit air menetes dari ujung rambutnya. Jaket cokelat tua yang dikenakannya basah pada bagian bahu. Flo tidak menyadari di luar turun hujan. Sudah satu jam dia duduk di Starbucks, sibuk menarikan jarinya di atas keyboard laptop putih kesayangannya.
“Lupa denganku? Harusnya kamu lebih banyak minum teh hijau daripada kopi. Teh hijau meningkatkan daya ingat dan kemampuan berpikirmu lebih responsif,” sindir pria itu sambil menatap tumbler Caramel Macchiato Flo yang sudah kosong.
Ingatan Flo terlempar ke peristiwa setahun lalu, tepat saat malam pergantian tahun…

* * *

Rentetan kendaraan merangkak pelan menenuhi jalan Laksda Adi Sucipto. Masih pukul delapan malam tapi suara klakson terdengar nyaring bersahutan dengan suara terompet yang terlalu awal ditiup. Flo berdecak kesal, menyesal dia tidak menolak mengantarkan Reni ke Bandara Adisucipto. Seharusnya dia sudah berada di rumah menyesap secangkir kopi sambil membaca novel yang menarik. Dia tidak punya rencana malam tahun baruan dengan siapa pun. Reni, sahabatnya malah tega meninggalkannya pergi ke Bali untuk menemui pacarnya, tentu tanpa mengajaknya.
Sejak dua tahun lalu Adrian memutuskannya karena harus menikahi wanita pilihan orang tuanya, Flo belum berminat untuk mencari pacar lagi. Meski cukup banyak pria yang menyatakan cinta padanya, hatinya masih serasa membeku. Dia melajukan mobilnya ke parkiran Mall Ambarukmo Plaza. Dia berharap secangkir kopi mampu membuatnya nyaman.
Flo memesan Caramel Macchiato lalu melangkah mencari meja yang kosong, memilih tidak memperdulikan pengunjung Starbucks yang kebanyakan berpasangan. Dia membuka tutup tumblernya, menyesap kehangatan khas yang menguar sambil memejamkan mata.
“Aduh!”
Flo terpekik, seseorang menyenggol bahunya. Sepercik kopi panas membasahi kemeja putih berenda yang dia kenakan. Dia menoleh, bersiap mengumpat seseorang yang membuat malamnya makin menyebalkan.
Seorang pria berwajah oriental dengan mata agak sipit dan berkulit putih menampakkan raut wajah menyesal.
“Maaf, aku tidak sengaja.”
“Kemeja ini berharga, sekarang kamu membuatnya ternoda!”
“Maaf, aku akan membelikanmu yang baru.”
“Sudah tidak ada yang jual!”
“Kalau begitu akan kucucikan sampai bersih. Aku berjanji…” Pria tampan itu tersenyum, berusaha melunakkan hati Flo.
“Tidak perlu…” Flo akhirnya malas berdebat lagi. Dia berusaha membersihkan noda kopi dengan tissue basah. Tapi tetap susah hilang.
Come on. Jangan ngambek begitu. Boleh aku minta nomer handphone-mu?
Flo mendelik. “Apa kamu selalu memakai trik begini untuk mendapatkan nomer handphone wanita?”
Pria tampan itu terperangah lalu tertawa. “Aku sudah berjanji akan mencucikan kemejamu. Tentu setelah bersih dan wangi, aku butuh nomer handphonemu untuk mengembalikannya?”
Rona merah menjalar di wajah Flo. “Sudah, tidak perlu. Aku bisa mencucinya sendiri.”
“Kalau aku sudah berjanji, aku berusaha menepatinya, Nona.” Pria tampan itu mengulurkan tangannya. “Namaku Toshiyuki, kamu?”
Meski masih merengut karena kesal, Flo membalas uluran tangan Toshiyuki. “Flo. Florida.”
“Nama yang cantik. Seperti kamu…” Toshiyuki tersenyum. “Nah, sekarang boleh aku minta nomermu?”
Flo menyebutkan deretan angka yang langsung disimpan Toshiyuki di handphone-nya.
“Thanks. Nah nomerku…” Saat Toshiyuki hendak menyebutkan nomernya, handphone-nya berbunyi. “Halo? Ya, Mama? Oh? Baik. Aku mengerti.”
Flo menyesap kopinya sambil mengamati perubahan wajah Toshiyuki. Pria itu tampak tegang lalu murung.
“Flo? Maaf, aku harus pergi sekarang. Tapi aku berjanji akan segera menghubungimu.” Tanpa menunggu jawaban Flo, pria itu berlalu cepat.
Flo terperangah. “Ah dasar pria! Seenaknya saja! Ah sudahlah…” ucapnya pelan. Dia menghabiskan kopinya lalu memutuskan untuk pulang dan tidur.

* * *

“Ingat?”
Flo merengut. “Tentu aku ingat! Namamu Toshiyuki. Kita berkenalan di tempat ini setahun yang lalu, tepat malam Tahun Baru. Kamu meminta handphoneku tapi tidak satu kalipun kamu menghubungiku!”
Toshiyuki tertawa. “Good. Very good memory. Kenapa kamu tidak menghubungi aku duluan? Bukankah ada istilah Ladies first?”
“Okey, Mister sok tampan yang pikun! Mungkin wanita di sekitarmu biasa menghubungimu duluan, tapi aku tidak! Dan waktu itu kamu belum memberiku nomer handphonemu!” Flo tampak marah, dia menshutdown laptopnya, berdiri dan meraih jaketnya.
“Wow pemarah sekali.”  Toshiyuki berdecak kaget. “Waktu itu memang aku terburu-buru pergi setelah kita berkenalan sebentar. Hmmm… ada peristiwa emergency. Kalau tidak keberatan, aku ingin menjelaskan kepadamu kenapa aku tidak menepati janjiku untuk segera menghubungimu kembali. Please?
Flo terdiam sejenak lalu kembali duduk.
“Kalau begitu aku harus memesan kopi lagi supaya tidak mengantuk mendengar ceritamu selama setahun ini.” Flo mengangkat tangan, bermaksud memanggil waiter.
Toshiyuki meraih tangannya, mencegahnya. “No. No more, Miss Coffee. Kita pindah lokasi ngobrol saja, aku akan mentraktirmu green tea yang enak di Kedai Teh langgananku,” bisiknya. “Kita kesana pakai mobilku saja, ya.”
Flo melotot. Bossy sekali! “Kopi itu pembangkit stamina!”
Toshiyuki menarik tangan Flo sampai berdiri. “Come on, kopi membuatmu makin terlihat seperti panda. Secangkir teh akan menyegarkanmu.”

* * *

‘Kedai Teh Michiko’ berinterior khas Jepang, terletak di sudut Jalan Nologaten, tidak jauh dari Ambarukmo Plaza. Gaya lesehan dengan meja kayu pendek, alas karpet polos dengan bantalan duduk. Di beberapa sudut kedai ada bunga sakura plastik dalam pot berhiaskan tulisan Kanji. Di dinding juga tergantung lukisan Gunung Fuji dan wanita berkimono merah.
“Minumannya green tea. Cemilannya kami pikirkan dulu,” kata Toshiyuki kepada seorang waitress yang menggenakan kimono.
Flo merengut. Bossy lagi! Harusnya dia bertanya apa yang ingin kuminum!
“Mau biskuit, muffin, brownies, atau sandwich?”
“Akhirnya kamu bertanya juga apa yang ingin kumakan? Tapi bukankah itu cemilan khas Barat?  Bukan Jepang?” tanya Flo heran.
“Aku kita kamu tidak doyan cemilan Jepang? Baiklah. Ada Dorayaki, Mochi, Takoyaki…” tanya Toshiyuki.
“Okey, Dorayaki!” potong Flo.
“Penggemar Doraemon tampaknya,” goda Toshiyuki sambil menutup buku menu. Dia memesan sepiring Dorayaki dan Takoyaki.
Flo mencibir. “Tapi aku bukan Nobita.”
Toshiyuki tertawa renyah. “Tentu, kamu cantik dan pandai seperti Shizuka. Nah, sejak dari Starbucks, kamu terus merengut kepadaku. Tampaknya pertemuan pertama kita meninggalkan kesan buruk di hatimu. Bagaimana kalau kita mengulang kembali perkenalan kita?”
Senyum geli menghiasi bibir Flo. Dia merasa kasihan juga dari tadi terus mencemberuti pria tampan itu.
“Namaku Toshiyuki, Ayahku Jepang, Ibuku Jawa. Giliranmu…”
“Namaku Florida. Aku asli Indonesia, tanpa campuran apa-apa. Oh ternyata Toshiyuki artinya kebijaksanaan...” ucap Flo menatap layar handphonenya.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Tentu mencari di google, Yuki,” jawab Flo santai.
Toshiyuki tertawa. “Kalau kamu memanggilku Yuki, artinya jadi salju”
“Hmm, ada juga Toshiyuki artinya cerdas dan bahagia.” Flo kembali menatap layar handphone lalu meletakkannya di meja.
“Ayahku yang memberi nama. Dia mungkin berharap aku bahagia,” ucap Toshiyuki lirih. “Namamu? Florida, apa artinya?”
“Florida, Bahasa Spanyol yang artinya berbunga.”
Toshiyuki tertawa. “Bisa juga flowers. Tidak sesuai dengan dirimu. Kamu cocoknya diberi nama Yuki karena sedingin salju,” godanya.
Flo memilih tidak membalas dan menikmati Dorayaki-nya.
“Jangan lupa minum green tea-nya juga. Bisa melangsingkan tubuh.”
“Jadi maksudmu aku ini gendut?” Flo merengut.
“Hahaha, cantik kok pemarah,” Toshiyuki terbahak. “Okey, aku ingin menjelaskan kenapa saat itu aku tidak bisa memenuhi janjiku menghubungimu.” Raut wajahnya berubah serius. “Kamu ingat waktu itu aku tidak sengaja menyenggolmu dan menumpahkan sepercik kopi di kemejamu?”
“Tentu ingat, karena itu aku marah. Kemeja itu kado terakhir dari mendiang ayahku. Noda kopinya tidak bisa hilang,” Flo bersedakep.
“Oh, maaf, aku tentu tidak tahu kemejamu itu bernilai kenangan, bukan uang,” Toshiyuki menampakkan raut wajah menyesal. “Pantas waktu itu kamu begitu marah, aku berjanji akan menghubungimu untuk membelikan kemeja baru, aku meminta nomer handphonemu…”
“No, kamu berjanji mencucikan sampai bersih kembali,” potong Flo.
“Oh, really?” Toshiyuki tersenyum. “Ya, okey. Aku begitu gugup dan terburu-buru karena… ibuku mengabarkan kalau ayahku sakit dan aku diminta ke Jepang untuk menemani beliau di sisa-sisa hidupnya. Seminggu lalu ayahku meninggal, setelah mengurus pemakaman, aku kembali ke Indonesia.”
“Oh, so sorry to hear that,” Flo menyesap green tea-nya, tiba-tiba merasa bersalah karena nyaris setahun ini mengumpat Toshiyuki sebagai pria tampan yang pembohong dan tidak bertanggung jawab.
Thanks.” Toshiyuki tersenyum tipis. “Sebenarnya aku sendiri tidak ingat ayahku seperti apa. Ibuku menceritakan saat aku berumur setahun, ayahku menceraikannya dan kembali ke Jepang. Sampai aku dewasa, dia tidak pernah menghubungi maupun datang menjenguk. It’s okey, ibuku bisa membesarkanku dengan baik sendirian. Maka saat usiaku 18 tahun aku memilih kewarganegaraan Indonesia.”
“Oh, kamu tidak ingin… sorry… mencari tahu seperti apa ayahmu?”
“Rasa penasaran itu tentu ada. Tapi aku tidak ingin menganggu hidupnya, siapa tahu dia telah memiliki keluarga lain. Saat lulus SMA, aku mendapat beasiswa kuliah di Jepang dan Singapore. Aku memilih Singapore. Jadi meski aku bertampang blasteran Jepang, sebenarnya aku belum pernah ke Jepang sama sekali, sampai….”
“Sampai ayahmu sakit?”
“Ya, aku baru saja kembali dari Jepang. Disana aku mengetahui alasan ayahku meninggalkan aku dan ibuku. Sudah lama ayahku sakit kanker tulang dan tidak ingin membebani ibuku dan aku.”
“Oh, kamu tentu sedih.”
“Terima kasih… Aku baik-baik saja. Nah sekarang kamu akan memaafkanku, right?”
Flo tersenyum. “Tentu saja. Kamu juga tidak perlu mencuci kemejaku. Biarlah noda kopi itu jadi kenangan kita.”
Toshiyuki tertawa. “Kalau begitu kemeja itu menjadi kenangan dari ayahmu dan aku? Ah, maaf, ayahmu meninggal kenapa?”
“Sudah lama, waktu aku SMA. Leukimia. Kemeja itu hadiah ultahku, sampai sekarang aku masih suka memakainya jika rindu padanya. Dan untunglah masih cukup.” Flo tertawa.
Toshiyuki tersenyum. “Kita sama-sama tidak punya ayah lagi. Aku bersyukur bertemu denganmu malam ini. Jadi aku tidak merayakan malam tahun baru sendirian seperti tahun lalu.”
“Aku juga,” Flo menunduk malu. “Tahun lalu setelah kamu pergi begitu saja, aku langsung pulang dan tidur.”
Toshiyuki tergelak. “Dan sekarang? Kamu juga masih sendiri? Atau…?”
“Kan kamu bisa lihat aku tadi di Starbucks sendirian?” Flo mengeryitkan kening.
“Wah mulai galak lagi. Hahaha. Nah mari kita nikmati green tea dan cemilan ini. Setelah ini kita enaknya ngapain ya? Mau aku belikan topi dan terompet tahun baru?” goda Toshiyuki.
“Tidak ah. Aku sih ingin merayakan dengan sunyi.”
“Malam Tahun baru mana bisa sunyi? Ini kan waktunya bergadang meniup terompet. Berpesta. Bergembira. Masak sih tepat pukul dua belas nanti kamu ingin pulang dan tidur lagi?”
“Jika tidak ada pilihan acara lebih menarik, maka itulah yang akan kulakukan lagi..” ucap Flo sambil tertawa kecil.
“Hmm… aku bukan party planner yang baik. Bagaimana kalau kita membakar jagung saja?”
“Ah tidak ah. Aku tidak suka jagung bakar,” tolak Flo.
Come on. Itu kan menyenangkan. Di rumahku atau rumahmu?”
“Kan ada ibumu? Masak baru sebentar kamu sudah harus memperkenalkan aku ke ibumu?” ucap Flo malu.
“Oh tidak. Ibuku sedang menginap di Jakarta. Ada kerabat yang sakit. Aku tidak ikut karena baru saja pulang dari Jepang.”
“Oh! Kok bisa sama? Ibuku ke Solo mengunjungi kerabat. Aku malas ikut. Tahu sendiri, aku pasti ditanya hal sensitif disana.”
“Seperti apa?” Toshiyuki tampak tertarik.
“Ah, ya seperti ‘kapan kamu menikah’, ya seperti itulah..”
Toshiyuki tergelak. “Itu wajar. Kamu cantik, harusnya cepet laku.”
Flo merengut. “Jangan menggodaku.”
Toshiyuki tertawa kecil. “Okey, rumahku atau rumahmu? Kita habiskan malam tahun baru berdua saja.”
Wajah Flo bersemu. “Maksudmu?”
“Jangan salah tangkap. Maksudku kita belanja saja makanan kecil dan minuman. Nah kita membuat kertas permohonan lalu membakarnya sambil berdoa supaya terkabul. Kita ngobrol sampai jam satu pagi lalu aku akan mengantarmu pulang. Gimana? Ah ide yang tidak menarik ya?” Toshiyuki tampak malu dan salah tingkah.
“Tapi kan aku membawa mobil sendiri?”
“Ah benar!” Toshiyuki menepuk dahinya.
“Kalau begitu kita ke rumahmu dulu dengan mobil masing-masing. Setelah mobilmu dimasukkan ke garasi, kita ke rumahku dengan mobilku. Disana kita bisa merayakan malam tahun baru dengan sunyi. Tidak akan jelas terdengar suara terompet maupun letupan kembang api.”
“Sunyi? Memang rumahmu di gunung?” Kening Flo berkenyit. “Rumahku di pusat kota. Ramai sekali jika tahun baru. Tahun lalu aku sampai menegak sebutir pil tidur supaya bisa tidur nyenyak.”
“Nah jika ingin kesunyian di malam tahun baru, kita ke rumahku saja. Jangan khawatir, aku tidak akan macam-macam.” Toshiyuki mengerling.
“Baiklah. Setelah ini kita ke supermarket saja.” Flo menyesap sisa green tea-nya.
Flo dan Toshiyuki kembali ke Ambarukmo Plaza. Mereka berbelanja snack, cokelat, roti dan dua botol soda di Carrefour. Satu jam kemudian mereka berdua telah sampai di pagar rumah Toshiyuki di jalan Wates, pinggiran kota Yogyakarta.
“Ya kan? Disini sunyi. Cuma terdengar suara jangkrik dan gemerisik daun.” Toshiyuki turun dari mobil.
Flo terpana menatap rumah Toshiyuki yang dikepung pepohonan hijau. Tampak asri dan alami. Rumahnya cukup luas berinterior Jawa dan Jepang. Lampion dan lampu taman menerangi rumah dan halaman. Jarak antara rumah satu dengan yang lain sekitar 500 meter. Memang sunyi. Jauh dari keramaian kota.
“Indah sekali… Kenapa pria sepertimu tahan di tempat sunyi begini?”
“Ibuku yang membeli rumah ini. Dia tidak suka hingar bingar suasana kota. Kebetulan aku berselera sama. Aku suka membaca sambil duduk di kursi taman itu.” Toshiyuki membuka pagar rumah dan menunjuk ke bangku kayu di halaman.
“Kamu suka membaca? Aku juga… bahkan aku menulis….”
“Kamu seorang penulis? Wow. Aku ingin membaca tulisanmu!” tukas Toshiyuki bersemangat.
“Ah, belum selesai. Sedikit lagi. Aku menulis sebagai hobi untuk mengibas kejenuhan saat bekerja kantoran.”
“Pokoknya kalau novelmu sudah terbit, aku harus jadi pembaca pertamanya!” pinta Toshiyuki.
“Baiklah, janji ya!”
Flo dan Toshiyuki saling menatap penuh arti dan tersenyum.
“Nah ayo kita party!” ajak Toshiyuki, menggandeng Flo duduk di kursi taman. Dia meletakkan berbagai snack dan minuman soda di atas meja kayu panjang. “Ah, aku ambil kertas, pulpen, lilin dan korek api dulu!” Dia berlari masuk ke dalam rumah.
Tak lama Toshiyuki dan Flo asik menuliskan permohonan dan target mereka untuk tahun yang akan segera datang.
“Jangan nyontek!” canda Toshiyuki, berusaha menutupi kertasnya.
Flo mencibir. “Selesaaii..!”
“Oke.” Toshiyuki menatap jam di pergelangan tangan kanannya. “Lima belas menit lagi, kita berdoa lalu bakar kertas ini.”
Flo tersenyum. Perasaan hangat merambat di hatinya. Baru kali ini dia merayakan malam tahun baru yang terasa sederhana namun manis. Dulu Adrian selalu mengajaknya merayakan di restoran mewah, namun semua itu kini tidak berkesan sama sekali.
“Nah… kita mulai!” Toshiyuki mengatupkan kedua tangannya dan memejamkan mata.
Flo menatap wajah Toshiyuki. Meski pria bulu matanya lentik, hidungnya cukup mancung dan bibirnya…
“Flo?” Toshiyuki kembali membuka matanya.
“Ah iya!” Flo malu ketahuan mengagumi ketampanan Toshiyuki. Dia memejamkan mata dan berdoa. Aku berharap…
Setelah Flo dan Toshiyuki selesai berdoa, mereka membuka mata dan membakar kertas permohonan. Dari kejauhan, arah kota, mereka melihat kembang api menghiasi langit. Suaranya sedikit terdengar.
“Selamat Tahun Baru, Flo…” ucap Toshiyuki lembut sambil tersenyum. “Semoga semua yang kamu inginkan tercapai tahun 2014 ini…”
“Selamat Tahun Baru juga, Yuki… Semoga kamu selalu bahagia…” ucap Flo.
“Saat ini aku sudah bahagia, Flo..” Toshiyuki mengedipkan mata.
“Aku juga…” Wajah Flo bersemu kemerahan. Kita baru dua kali ini bertemu, tapi rasanya kita sudah mengenal lama. Apakah kamu jodohku, Yuki?

* * *

Hari-hari berikutnya berlalu penuh gelak tawa, tidak menyisakan kesedihan untuk hinggap. Yuki membuat tulisan-tulisan Flo sekarang terasa lebih bermakna. Yuki suka membaca, Flo suka menulis, perpaduan yang pas. Yuki mengkritik tulisan Flo jika dianggapnya tidak logis maupun aneh. Flo berusaha menerima masukan itu dengan lapang hati. Perbedaan itu tetap ada dalam setiap hubungan, Yuki menyukai teh, sedangkan Flo masih tetap rajin menyesap kopi untuk mengibaskan kantuk di malam-malam menjelang deadline penyerahan naskahnya. Namun mereka saling melengkapi.
“Aku berjanji akan datang saat peluncuran novelmu,” ucap Yuki sambil menggenggam tangan Flo erat.
“Tentu, awas kalau tidak datang! Kamu harus jadi pembeli pertama!” ucap Flo mantap.
“Hei, sebagai pria yang kamu cintai, aku kira akan mendapat novel gratis?” goda Toshiyuki.
“Siapa yang bilang aku mencintaimu? Baru sebulan kita kenal. Cinta tidak hadir secepat itu.”
“Pernah dengar istilah love at the first sight? Kamu bisa bilang sekarang… di hadapan orangnya langsung…” Toshiyuki tersenyum.
Ladies First?” Flo mendelik.
“No. Aku duluan, I love you, Florida… Aishiteru forever…” Wajah Yuki bersinar terang.
Flo tersenyum. “I love you too… Yuki.” Hatinya mengembang oleh perasaan bahagia.
* * *

Dering ringtone handphone sayup terdengar. Flo setengah mati berusaha membuka matanya yang baru saja menutup satu jam yang lalu. Tertera nama Yuki di layar handphonenya. Flo tersenyum.
 “Halo, sepagi ini sudah merindukan aku?” Flo menatap jam di dinding, pukul dua pagi.
“Halo… aku ibu Yuki.” Suara seorang wanita bergetar disana. “Yuki kecelakaan…”
Flo merasa dunia runtuh menimpanya.

* * *

            Dua minggu berlalu sejak kepergian Yuki. Acara peluncuran novel perdananya “The Last Snow” di Toko Buku Gramedia ramai dipadati banyak pengunjung. Tangan Flo bergetar saat harus menandatangani novelnya. Penat. Lelah. Sekitar lima puluh orang masih berada dalam antrian dan dia sudah tidak tahan ingin segera meneteskan airmata. Pelupuk matanya terasa berat. Sosok yang dia harapkan tidak akan pernah hadir, sampai kapan pun dia menunggu…
            Yuki, kamu berbohong! Kamu tidak datang saat ini!  Aku berharap kamu akan selalu bersamaku selamanya, tapi itu tidak terkabul!
Satu jam kemudian Flo berdiri di luar. Hawa dingin menerpa. Dia bergidik dan merapatkan jaketnya. Toshiyuki berlalu menyusul ayahnya. Hujan rintik turun perlahan seperti salju. Sekarang rasanya hatinya pun sedingin salju…

* * *
 



Wednesday, November 27, 2013

Gambar dari : hugesponge.blogspot.com

50 Books That Changed The World

For centuries, books have been written in an attempt to share knowledge, inspiration, and discoveries. Sometimes those books make such an impact that they change the way the world thinks about things. The following books have done just that by providing readers an education in politics and government, literature, society, academic subjects such as science and math, and religion.

1.  The Republic by Plato.
2.  The Communist Manifesto by Karl Marx and Friedrich Engels.
3.  The Rights of Man by Thomas Paine.
4.  Common Sense by Thomas Paine.
5.  Democracy in America by Alexis de Tocqueville.
6.  The Prince by Niccolo Machiavelli.
7.  Uncle Tom’s Cabin by Harriett Beecher Stowe.
8.  On Liberty by John Stewart Mill.
9.  Das Kapital by Karl Marx.
10. The Wealth of Nations by Adam Smith.
11. Guerilla Warfare by Che Guevara.
12. The Canterbury Tales by Geoffrey Chaucer.
13. Lady Chatterley’s Lover by DH Lawrence.
14. Divine Comedy by Dante Alighieri.
15. The Complete Works of William Shakespeare.
16. Things Fall Apart by Chinua Achebe.
17. Moby Dick by Herman Melville.
18. 1984 by George Orwell.
19. Brave New World by Aldous Huxley.
20. Iliad and Odyssey by Homer.
21. Don Quixote by Miguel de Cervantes.
22. A Christmas Carol by Charles Dickens.
23. Madame Bovary by Gustave Flaubert.
24. The Arabian Nights Entertainment by Andrew Lang.
25. War and Peace by Leo Tolstoy.
26. The Little Prince by Antoine de Saint-Exupry.
27. The Alchemist by Paulo Coelho.
28. Diary of a Young Girl by Anne Frank.
29. Survival in Auschwitz by Primo Levi.
30. The Vindication of the Rights of Women by Mary Wollstonecraft.
31. The Second xxx by Simone de Beauvoir.
32. A Room of One’s Own by Virginia Woolf.
33. Walden by Henry David Thoreau.
34. A Dictionary of the English Language by Samuel Johnson.
35. Philosophae Naturalis Principia Mathematica by Isaac Newton.
36. The Interpretation of Dreams by Sigmund Freud.
37. On the Origin of Species by Charles Darwin.
38. Silent Spring by Rachel Carson.
39. Geographia by Ptolemy.
40. The Meaning of Relativity by Albert Einstein.
41. The Bible.
42. The Qur’an.
43. The Torah.
44. The Tibetan Book of the Dead.
45. The Analects of Confucius.
46. The Summa Theologica of St. Thomas Aquinas.
47. The Bhagavad Gita.
48. I Ching.
49. Tao Te Ching.
50. Bartleby by Hermann Melville.

Sumber : http://paulocoelhoblog.com/ by Paulo Coelho on May 15, 2013

Saturday, November 16, 2013




Perempuan Malam
 Lidya Renny Chrisnawaty
 

Malam mengandung bulan lalu melahirkan kesunyian. Hampir menjelang tengah malam tapi kantuk tak juga menyerang. Udara di dalam rumah begitu pengap. Aku keluar rumah berbalutkan singlet tipis dan sarung. Angin membelai pelan rambutku yang cepak. Bulan bertengger cantik di langit kelam. Sunyi sekali, tak terlihat Bapak-Bapak tetangga yang berkeliling ronda, mungkin mereka sedang ngobrol di pos ronda. Aku hendak berbalik menuju ke rumah ketika kulihat cahaya lampu dari jendela kecil sebuah rumah tepat di depan rumah Paman. Seorang perempuan bertopang dagu menatap ke atas. Aku mengikuti arah pandangannya. Oh, mungkin dia juga tak bisa tidur sepertiku dan sedang menikmati keindahan bulan purnama. 

 * * *




 
  Ditulis               : 20 Desember 2011   
  Dikirim             : 23 Desember 2011
  Masuk Antologi Kumpulan Cerpen  "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Durjana"
  http://www.leutikaprio.com/produk/11027/kumpulan_cerpen/1204550/tuhan_izinkan_aku_menjadi_durjana/12043961/jayusman_lacanda_nsikome_sintia_astarina_dkk

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Durjana

Penulis: Jayusman Lacanda, N.Sikome, Sintia Astarina, dkk, Kategori: Kumpulan Cerpen
Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Durjana

ISBN: 978-602-225-387-7
Terbit: April 2012
Halaman : 185, BW : 185, Warna : 0
Harga: Rp. 40.100,00
 
Deskripsi:
Hari ini, tepat dua bulan dari hari aku berkenalan dengan “perempuan malam” yang bernama Nilam. Aku kembali ke kota ini membawa sebuah kado, sebagai tanda aku turut berbahagia menyaksikan Paman Barra yang ganteng dan berwibawa dengan Nilam yang cantik berbalut kebaya putih berenda emas bersanding di pelaminan. Meski ada sedikit perih di hati, namun akan kusimpan rasa cinta ini untuknya rapat-rapat dalam hati, karena mulai saat ini harus kupanggil dia: Bibi Nilam!

Cuplikan cerita di atas diambil dari salah satu cerpen pilihan duniapenulis.com. Masih ada 15 cerpen lain yang penuh inspirasi dalam buku ini. Penasaran dengan kisah-kisahnya? Simak semua ceritanya, dan temukan motivasi untuk tetap berkarya mengembangkan dunia literasi bangsa. 

Naik Kereta dari Jogja ke Solo

         Akhir-akhir ini aku aku ke Solo dan alat transportasi yang paling mudah ya kereta. Dari Jogja ke Solo naik Kereta Prameks, murah...