Wednesday, November 27, 2013

Gambar dari : hugesponge.blogspot.com

50 Books That Changed The World

For centuries, books have been written in an attempt to share knowledge, inspiration, and discoveries. Sometimes those books make such an impact that they change the way the world thinks about things. The following books have done just that by providing readers an education in politics and government, literature, society, academic subjects such as science and math, and religion.

1.  The Republic by Plato.
2.  The Communist Manifesto by Karl Marx and Friedrich Engels.
3.  The Rights of Man by Thomas Paine.
4.  Common Sense by Thomas Paine.
5.  Democracy in America by Alexis de Tocqueville.
6.  The Prince by Niccolo Machiavelli.
7.  Uncle Tom’s Cabin by Harriett Beecher Stowe.
8.  On Liberty by John Stewart Mill.
9.  Das Kapital by Karl Marx.
10. The Wealth of Nations by Adam Smith.
11. Guerilla Warfare by Che Guevara.
12. The Canterbury Tales by Geoffrey Chaucer.
13. Lady Chatterley’s Lover by DH Lawrence.
14. Divine Comedy by Dante Alighieri.
15. The Complete Works of William Shakespeare.
16. Things Fall Apart by Chinua Achebe.
17. Moby Dick by Herman Melville.
18. 1984 by George Orwell.
19. Brave New World by Aldous Huxley.
20. Iliad and Odyssey by Homer.
21. Don Quixote by Miguel de Cervantes.
22. A Christmas Carol by Charles Dickens.
23. Madame Bovary by Gustave Flaubert.
24. The Arabian Nights Entertainment by Andrew Lang.
25. War and Peace by Leo Tolstoy.
26. The Little Prince by Antoine de Saint-Exupry.
27. The Alchemist by Paulo Coelho.
28. Diary of a Young Girl by Anne Frank.
29. Survival in Auschwitz by Primo Levi.
30. The Vindication of the Rights of Women by Mary Wollstonecraft.
31. The Second xxx by Simone de Beauvoir.
32. A Room of One’s Own by Virginia Woolf.
33. Walden by Henry David Thoreau.
34. A Dictionary of the English Language by Samuel Johnson.
35. Philosophae Naturalis Principia Mathematica by Isaac Newton.
36. The Interpretation of Dreams by Sigmund Freud.
37. On the Origin of Species by Charles Darwin.
38. Silent Spring by Rachel Carson.
39. Geographia by Ptolemy.
40. The Meaning of Relativity by Albert Einstein.
41. The Bible.
42. The Qur’an.
43. The Torah.
44. The Tibetan Book of the Dead.
45. The Analects of Confucius.
46. The Summa Theologica of St. Thomas Aquinas.
47. The Bhagavad Gita.
48. I Ching.
49. Tao Te Ching.
50. Bartleby by Hermann Melville.

Sumber : http://paulocoelhoblog.com/ by Paulo Coelho on May 15, 2013

Saturday, November 16, 2013




Perempuan Malam
 Lidya Renny Chrisnawaty
 

Malam mengandung bulan lalu melahirkan kesunyian. Hampir menjelang tengah malam tapi kantuk tak juga menyerang. Udara di dalam rumah begitu pengap. Aku keluar rumah berbalutkan singlet tipis dan sarung. Angin membelai pelan rambutku yang cepak. Bulan bertengger cantik di langit kelam. Sunyi sekali, tak terlihat Bapak-Bapak tetangga yang berkeliling ronda, mungkin mereka sedang ngobrol di pos ronda. Aku hendak berbalik menuju ke rumah ketika kulihat cahaya lampu dari jendela kecil sebuah rumah tepat di depan rumah Paman. Seorang perempuan bertopang dagu menatap ke atas. Aku mengikuti arah pandangannya. Oh, mungkin dia juga tak bisa tidur sepertiku dan sedang menikmati keindahan bulan purnama. 

 * * *




 
  Ditulis               : 20 Desember 2011   
  Dikirim             : 23 Desember 2011
  Masuk Antologi Kumpulan Cerpen  "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Durjana"
  http://www.leutikaprio.com/produk/11027/kumpulan_cerpen/1204550/tuhan_izinkan_aku_menjadi_durjana/12043961/jayusman_lacanda_nsikome_sintia_astarina_dkk

Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Durjana

Penulis: Jayusman Lacanda, N.Sikome, Sintia Astarina, dkk, Kategori: Kumpulan Cerpen
Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Durjana

ISBN: 978-602-225-387-7
Terbit: April 2012
Halaman : 185, BW : 185, Warna : 0
Harga: Rp. 40.100,00
 
Deskripsi:
Hari ini, tepat dua bulan dari hari aku berkenalan dengan “perempuan malam” yang bernama Nilam. Aku kembali ke kota ini membawa sebuah kado, sebagai tanda aku turut berbahagia menyaksikan Paman Barra yang ganteng dan berwibawa dengan Nilam yang cantik berbalut kebaya putih berenda emas bersanding di pelaminan. Meski ada sedikit perih di hati, namun akan kusimpan rasa cinta ini untuknya rapat-rapat dalam hati, karena mulai saat ini harus kupanggil dia: Bibi Nilam!

Cuplikan cerita di atas diambil dari salah satu cerpen pilihan duniapenulis.com. Masih ada 15 cerpen lain yang penuh inspirasi dalam buku ini. Penasaran dengan kisah-kisahnya? Simak semua ceritanya, dan temukan motivasi untuk tetap berkarya mengembangkan dunia literasi bangsa. 



Supena
 Lidya Renny Chrisnawaty

Sumber gambar : www.embassyofindonesia.org

 “Arghhhhh!!”
Sosok itu mendekat, bola matanya melotot, kukunya panjang-panjang, gigi taring kehitaman yang sangat panjang, lidah panjang yang terulur ke arahku. Aku berlari tersuruk-suruk ketakutan meniti kegelapan.
Sesuatu selalu menikam jiwaku ke dalam kegelapan ke dasar tanah yang dingin. Meronta dari mimpi yang panjang dan melelahkan. Aku hanya ingin tersadar dan menghirup nafas dunia yang meski terkadang juga menyesakkan namun lebih melegakan daripada di alam mimpi…

                                                                                   * * *

Mual. Serasa mau muntah. Perutku seperti diaduk-aduk. Kutatap bayangan wajahku di depan cermin. Urat-urat kemerahan merambat di bola mataku yang seharusnya putih gading. Aku meraba dahiku lalu mengerang. Kutatap kecewa ransel hitam yang teronggok lesu di tepi ranjang. Kepalaku berdenyut-denyut.
Bel pintu berbunyi nyaring seperti terompet tahun baru. Aku mengerang lagi lalu terhuyung-huyung keluar dari kamar ke pintu depan.
“Siap untuk pertualangan ke Pulau Dewata? Kok loyo begitu? Come on, kita sudah mempersiapkan perjalanan ini sejak tiga bulan yang lalu. Kita akan menjelajahi Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua!” ucap Galih penuh semangat.
“Batal!” ucapku ketus. Kepalaku rasanya ngilu tapi masih kumiliki tenaga untuk marah. Kemarahan itu terpaksa kuletuskan kepada Galih, sementara sebenarnya dalam hati aku memaki-maki akan ketidak-becusanku menjaga diri sendiri.
“Kau sakit?” selidik Nugroho yang melihatku loyo, “Well, kami tidak bisa membatalkan perjalanan ini. Bukan kami tak setia kawan tapi… kamu tahu kan kami telah banyak menabung untuk perjalanan ini? Batal berakibat hangusnya tiket pesawat ke Bali. Dan kita sudah berencana untuk menyaksikan Upacara Hari Raya Nyepi.”
“Aku tahu… pergilah tanpa aku,” ungkapku kecewa. “Semoga kalau kondisiku lebih baik, aku akan bisa menyusul. Kalau aku memaksa ikut, aku takut akan merepotkan kalian.”
“Okey, Don. Kami pergi dulu, nanti kami bawakan oleh-oleh deh.” Galih mengedipkan matanya. Aku mendengus kecewa.
Kesunyian menyergap. Ketiga temanku itu pergi bertualang tanpa aku. Liburan yang menyedihkan bagiku! Kusambar botol obat di meja. Berharap obat itu mampu menurunkan demamku dengan segera sehingga bisa kususul mereka ke bandara. Tapi setelah minum obat aku mulai mengantuk.
Cring. Terdengar suara lonceng. “Ong, gni brahma anglebur panca maha butha, anglukat sarining merta. mulihankene kite ring betara guru, tumitis kita dadi manusia mahatama. ong rang sah, prete namah.
Aku menggeliat. Jantungku berdegup kencang. Kepalaku makin berdentam-dentam. Samar-samar aku mendengar suara keras. Aku melonjak bangun begitu menyadari itu ketukan di pintu. Aku meraba dahiku, demamku turun karena keringat juga membanjiri dahiku. Kulirik jam di dinding, ternyata baru pukul tiga sore, kukira aku tidur cukup lama. Aku melangkah ke pintu dan membukanya. Nugroho langsung aja menyeruduk masuk.
“Batal ke Bali juga?” tanyaku kaget.
“Hei, pesawatnya delay, jadi aku ngebut kesini untuk menjemputmu, siapa tahu kamu sudah sembuh. Come on, kamu mau melewatkan Kuta dan Sanur hanya karena sedikit sakit? Kamu akan sembuh disana. Trust me!”
Kepalaku masih agak pening, tapi kupaksakan berganti baju lalu menyeret ranselku keluar kamar. Nugroho langsung menarikku keluar rumah menuju taksi yang sudah terparkir menunggu kami. Taksi melesat secepat kilat, aku tak ingat lagi apa yang terjadi.
Aku, Galih dan Nugroho berada di Pura Dalem. Bangunannya menghadap ke barat, berhiaskan ukiran-ukiran yang indah berbentuk seperti bunga dan tumbuhan. Upacara adat sedang berlangsung, ratusan orang menonton. Untuk menghormati Upacara kami harus menggenakan ikat kepala bernama udeng juga berkemeja putih dan berkain Poleng khas Bali. Kain ini bermotif hitam putih seperti papan catur yang melambangkan keseimbangan antara baik dan buruk. Kupotret rombongan wanita yang membawa mengusung sesajen buah-buahan yang ditata menarik di atas kepalanya.  Musik Bali seperti Gong mengiringi langkah mereka.
Lamanya upacara membuatku lelah, aku duduk di undukan tangga Pura. Menyesali tak sempat menyuap mulut dengan apapun. Cacing di perutku berkoar-koar. Nugroho dan Galih entah kemana, susah menemukan mereka di tengah ratusan orang seperti ini. Aku memencet handphoneku, tapi berkali-kali kutelepon tidak diangkat. Tak jauh dari Pura ada sebuah area pemakaman dan gerbangnya terbuka. Rasa penasaran mengusik hatiku, kudengar orang Bali suka meletakkan mayat begitu saja tanpa menguburkannya atau dibakar dan itu disebut Ngaben. Aku melangkah kesana. Kuburannya sepi tapi karena siang tidak terlihat menyeramkan. Tak kulihat ada sesosok mayat diletakkan, seperti kuburan biasa saja. Ada sebuah gundukan tanah merah basah tanpa jiwa, sepertinya kuburan baru.
Aku merasa letih sekali dan duduk di sebuah nisan. Aku melepas ranselku dan merogoh-rogoh isinya namun tak kutemukan makanan. Aku malah menemukan pilox yang biasa kupakai untuk mencoret-coret kamarku supaya terlihat menarik. Kadang kalau lagi iseng aku dan teman-temanku mencoret-coret tembok rumah orang atau teman yang kami benci. Orang menyebutnya vandalisme tapi aku menganggapnya kreativitas. Keisenganku timbul. Kuburan ini kan dianggap tempat suci, dimana semua orang berakhir disini. Aku teringat orang yang telah menyakitiku. Kutuliskan namanya di balik nisan. Aku harap dia merasakan penderitaan seperti yang kurasakan. Aku tersenyum puas.
Angin berhembus agak kencang, aku menggigil karena tidak mengenakan jaket. Kulihat beberapa orang yang juga menggenakan Udeng memasuki area pemakaman. Aku cepat-cepat berdiri, karena terburu-buru aku tersandung ranselku sendiri. Aku terjembab di tanah dan handphoneku terlempar di dekat kepalaku. Saat mencoba berdiri, aku merasakan sesuatu mencengkram tanganku, aku susah bergerak. Aku mendongak dan melihat sesosok wajah menyeramkan dengan mata melotot, gigi yang tajam dan lidah yang panjang. Aku ingin menjerit tapi tenggorokanku tercekat. Handphoneku berbunyi, tertera di layar LCD ada nama Nugroho disitu. Aku berusaha meraihnya….tapi gigi tajam mahkluk itu mulai mendekat ke leherku… aku…
“Arghhh!”
Aku terlonjak bangun. Kepalaku berdenyut-denyut. Kaosku basah keringat. Aku menatap sekeliling, aku masih berada di kamarku. Ternyata tadi aku cuma bermimpi, mungkin karena tidur dengan perasaan kecewa batal berangkat ke Bali aku terbawa bermimpi kesana. Untunglah, seram sekali tadi mimpiku. Tenggorokanku kering, aku pergi ke dapur, sambil minum kuraba keningku. Demamku sudah turun tapi badanku rasanya gatal semua. Aku bergegas mandi.
Setelah bermimpi buruk aku letih sekali dan tertidur lagi. Celakanya, aku bermimpi lagi tentang sosok mengerikan itu. Kali ini aku melihat mahkluk itu sedang mengambil organ-organ tubuh mayat yang diaben. Aku tercekat ngeri saat mahkluk itu memergokiku sedang menatapnya. Dia membuang jantung berlumuran darah yang sedang dia remat lalu mengejarku. Aku ketakutan lalu berlari sekuat tenaga dalam kegelapan.
Oh, God! Aku lega bisa terbangun lagi. Semua terasa begitu nyata! Aku merasakan kelelahan yang luar biasa berlari-lari di mimpi. Kutatap jam di dinding. Sudah pukul delapan pagi. Aku pergi ke kamar mandi. Tetesan air dingin menyejukkan wajahku. Tapi kulitku terasa gatal, kutatap wajahku di cermin, ada benjolan-benjolan kecil berwarna kemerahan. Tidak hanya di wajah tapi juga di kedua lenganku. Rasanya gatal dan panas, ingin kugaruk tapi aku takut lecet. Kutahan keinginanku untuk menggaruk sebisa mungkin, kuambil jaketku lalu kularikan montorku ke Dokter kulit. Dokter bilang aku bisulan dan memberiku salep juga obat antibiotik. Dokter juga menasehatiku supaya tidak menggaruknya. Huh, mudah sekali dia bilang begitu padahal ini gatal sekali!
Sumber gambar : wikipedia
Rasanya ingin kupenjarakan hari ini supaya esok tak pernah datang. Dua hari berikutnya aku masih saja bermimpi tentang mahkluk itu. Sosoknya begitu jelas. Matanya melotot, kukunya panjang-panjang, gigi taring yang sangat panjang, lidah yang menjulur sampai kaki dan terdapat banyak bola api diatas lidahnya. Dia juga membawa kain putih di tangannya. Aku penasaran mahkluk apa itu? Aku browsing di internet tentang ciri-ciri sosok itu dan melihat gambar mengerikan itu. LEAK! Mitos hantu dari Bali? Apakah gara-gara kekecewaanku yang begitu dalam karena batal ke Bali, Leak menghantuiku?
Aku sampai takut untuk tertidur, Leak itu selalu mengejar-ngejarku dalam mimpi. Dan bisulku pun tak sembuh-sembuh, bahkan setiap pecah muncul lagi. Aku menelepon Nugroho tentang ini, dan yang mengejutkan dia pun bermimpi dikejar-kejar Leak. Bagaimana bisa? Padahal kami tidak berada di tempat yang sama. Keanehan ini menghadirkan banyak pertanyaan di benakku. Nugroho bermaksud untuk pergi ke tempat Balian, istilah untuk dukun di Bali. Dan dia memintaku untuk segera menyusul, siapa tahu bisulku juga karena diguna-guna dan Balian itu bisa menyembuhkannya. 

* * * 

Aku baru saja menginjakkan kaki di lantai Bandara Ngurah Rai ketika kulihat Nugroho dan Galih sudah melambai-lambai dari sekat kaca pemisah antara ruang bagasi dan ruang tunggu penumpang. Aku memanggul ranselku. Jaket dan celana panjang yang kukenakan lumayan menutupi bisul-bisulku. Akhirnya aku sampai juga di Pulau yang sebagian besar penduduknya beragama Hindu ini.
Kami ke hotel untuk meletakkan barang-barangku lalu ke Pura. Ini seperti sebuah dejavu. Semua persis di dalam mimpiku. Pura Dalem ini, Udeng yang kupakai, wanita-wanita yang menjunjung sesajen buah yang disebut banten di atas kepalanya. Keramaian tempat ini dan… kulayangkan pandangan ke arah kiri, kulihat area pemakaman dan aku bergidik.
“Katamu kita akan mencari seorang Balian, kenapa kita malah santai-santai menonton upacara ini? Bisulku ini sungguh gatal!” desisku kesal.
“Tenang, kawan. Kita sedang mencari tahu siapa Balian disini. Tak baik menganggu upacara adat,” bisik Nugroho, menenangkan.
“Maaf, aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Untuk apa kalian mencari seorang Balian?” Sebuah suara lembut terdengar dari belakang punggung kami.
Seorang gadis cantik berambut lurus panjang, berkulit kuning langsat mengenakan pakaian adat Bali menatap kami. Dia memiliki kecantikan yang memikat. Setangkai Bunga Kamboja terselip di telinganya.
“Begini, kami memiliki masalah dengan mimpi buruk tentang sosok dari tempat ini. Dan kami ingin bertanya tentang arti mimpi kami kepada Balian. Oh,ya perkenalkan namaku Donny dan ini kedua temanku, Nugroho dan Galih,” kataku.
“Namaku Ida Ayu Puspita Sari, panggil saja Sari. Ayahku seorang Tetua di Pura ini, beliau mempunyai kenalan seorang Balian. Mungkin beliau bisa membantu kalian.”
Kami sampai di rumahnya yang dipenuhi hiasan ukiran juga patung-patung, di perkarangan rumah tertanam banyak tanaman seperti pandan mengitari rumahnya.
“Daun apa itu? Bau dan bentuknya seperti pandan?” tanyaku.
“Itu memang pandan, menurut kepercayaan daun pandan bisa menetralisir kekuatan negatif,” jawab Sari.
Sari memperkenalkan kami kepada Ayahnya. Dan kami segera menjelaskan tentang mimpi-mimpi kami. Ayah Sari mengangguk-angguk lalu menyuruh seseorang memanggil Balian. Kepada Balian itu kami menceritakan kembali tentang mimpi-mimpi kami dikejar-kejar sosok Leak. Aku juga menunjukkan bisul-bisulku kepada Balian itu.
“Apa kamu melanggar sesuatu selama di Bali ini?” tanya Balian.
“Saya baru sampai di Bali pagi ini, tapi bisul ini sudah berlangsung sekitar tiga hari. Sebelum itu saya sempat demam. Sejak itu juga saya bermimpi dikejar-kejar Leak.”
“Kami di Bali masih menghormati budaya leluhur dan kecintaan pada alam. Maka banyak pantangan yang kami anut. Kamu yakin tidak melakukan apapun, meskipun di dalam mimpi?” tanya Balian itu tajam.
Aku menggigit bibir lalu menggaruk bisul di lenganku. Sejak sampai di Bali ini, bisul ini semakin panas dan gatal. Aku melirik Nugroho dan Galih sebelum menjawab.
“Sebenarnya… di dalam mimpi saya hanya mencoret-coret sebuah nisan di kuburan. Lalu tiba-tiba Leak itu mendatangi saya… dan…”
“Batas antara dunia mimpi dan nyata itu amat tipis,” potong Balian. “Kadang saat di dunia nyata kita ingin melakukan sesuatu maka hasrat itu akan terbawa di alam mimpi dan terwujud disana. Begitu pula kalau kita melakukan kejahatan di dunia mimpi, bisa jadi di dunia nyata kita akan mewujudkannya. Saat kita membayangkan sesuatu baik di nyata maupun di mimpi, kita telah membuka diri untuk melaksanakannya.”
“Baiklah, malam ini kalian boleh menginap di rumah saya. Karena tengah malam nanti kita akan adakan upacara pengusiran supaya kalian tidak diganggu Leak di dalam mimpi lagi,” ucap Tetua.
“Terima kasih,” ucapku senang meski agak takut. Apa yang akan mereka lakukan padaku?
“Nanti sediakan garam, bawang putih, bawang merah, cabe, kunyit, semua dimasukkan ke kantung untuk digantung di leher dan di atas pintu rumah ini,” ucap Balian. Tetua dan Sari mengangguk patuh.
“Ha, takhayul banget, mendingan buat masak,” celutuk Nugroho. Kusikut dia sambil kupelototi. Aku tak peduli meskipun Balian itu menyuruhku makan kodok sekalipun akan kujalani asal aku terbebas dari bisul ini dan mimpi buruk tentang Leak itu.
Balian itu hanya tersenyum, tak nampak tersinggung dengan ucapan skeptis Nugroho. Mungkin dia sudah menguasai ilmu kesabaran tingkat tinggi. 

* * *

Malam tiba dengan cepat namun kehilangan kecemerlangannya. Langit kelam, tanpa bintang seperti sebuah pertanda akan ada kekelaman yang menutupi. Aura mistis melingkupi Pura. Aku bergidik merapatkan jaket, berdiri di depan rumah Sari.
Beberapa saat kemudian kami semua berkumpul di setra atau kuburan. Aku, Nugroho dan Galih berjejeran rapat. Sementara Balian, Tetua, Pemangku Adat dan beberapa asistennya berdiri mengelilingi kami. Bunga-bunga ditaburkan di sekitar kami.
“Dalam kehidupan selalu ada keseimbangan, ada hitam pasti ada putih, siang dan malam. Dan bila ada kejahatan pastilah ada kebaikan. Itulah yang disebut Rwa Bhineda. Leak berasal dari legenda Calon Arang, sebenarnya Leak bisa ditujukan untuk perbuatan baik, sayang telah banyak orang menyalahgunakannya sehingga Leak berubah menjadi layaknya monster yang ditakuti banyak orang.”
“Sekarang, lebih baik Bli memikirkan tentang kebencian Bli pada seseorang. Lebih baik kebencian itu dilepaskan, selain itu adalah racun bagi tubuh, itu juga mengundang datangnya Leak. Leak selalu menyukai aura gelap dalam diri seseorang dan berusaha merangkulnya untuk ikut dengannya. Dalam ajaran kami, rasa sakit yang Bli rasakan hanyalah kesempatan untuk membayar utang karma di kehidupan sebelumnya, jadi terima itu sebagai ujian, bukan sebagai hukuman,” ucap Pak Mangku yang berpakaian serba putih berdiri di tengah lingkaran. Beliau membawa lonceng, di sebelahnya asistennnya membawa dian kecil dan kendi.
Aku tersentak. Pak Mangku seperti bisa membaca isi hatiku. Ah, Lia! Dia yang membuatku menggila mabuk kepayang lalu bermain-main dengan hatiku. Memilih sosok tegap yang lain. Mengingat Lia rasanya seperti menggarami luka, perih. Dia yang telah mengkhianati cinta kami dengan memilih lelaki pilihan orang tuanya. Bisakah kumaafkan? Demi melupakan mata itu, sosok itu yang telah mencampakkanku serupa kain kumal yang telah sobek dan bau.
“Kesabaran mendalam, baik hati dan selalu tersenyum pada apapun yang terjadi,” Tetua menambahkan, “itulah hal yang bisa membantu kita menghadapi segala penderitaan apapun. Lalu berdoalah menurut kepercayaanmu kepada  Ida Sang Hyang Widhi Wasa yaitu Tuhan yang Maha Kuasa.”
“Dimahi, dhiyo yo nah pracodayat (Kami bermeditasi kepada cahaya realitas mahasuci, yang merupakan dasar dari tiga macam alam semesta. Semoga pikiran kami dicerahkan). Om visvani deva savitar, duritani para suva, yad bhadram tanna a suva (Brahman sebagai cahaya realitas mahasuci, jauhkanlah segala energi jahat dan berkahi kami dengan yang terbaik). Pemangku mengucapkan mantera dan menabur bunga di sekitar tubuhku, sementara asistennya membakar dupa.
Saat mantera dibacakan, rasanya rasa gatalku semakin menjadi-jadi, aku kehilangan kontrol pada tubuhku sendiri, kurasakan tubuhku menghentak-hentak. Jiwaku seperti terangkul dalam aura kematian…
“Don!” Kurasakan Nugroho dan Galih mencoba menenangkan tubuhku yang rasanya menggelepar-lepar kepanasan. Aku merasakan kegelapan memelukku begitu kuat.
Ah, dia mengejarku lagi! Aku berlari tersuruk-suruk dalam kegelapan, tapi kurasakan ada orang di sisi kanan dan kiriku. Nugroho dan Galih ikut berlari bersamaku. Dan… aku menjerit ngeri. Ada  mahkluk lainnya berhadapan dengan Leak. Sosoknya seperti singa dan juga ada Balian yang duduk bersila, dari kedua telapak tangannya mengeluarkan bola api.
“Jangan berlari lagi! Kemarilah!” perintah Balian itu kepada kami. “Ketakutan untuk dihadapi bukan untuk dihindari. Mari kita bantu Barong menghadapi Leak!”
Kami menghentikan langkah kami berlari dan ragu-ragu mendekat. Terlihat Barong berusaha melawan Leak. Balian memerintahkan kami turut bersila bersamanya.
“Pejamkan mata kalian dan rasakan energi alam di sekitar kalian. Fokus pada telapan tangan kalian dan bayangkan sebuah bola api, rasakan energinya.”
Oh, aku merasakan kedua telapak tanganku panas. Sedikit pedih! Kubuka mataku perlahan dan kulihat sebuah bola api berwarna merah kekuningan terbentuk di kedua tanganku. Aku agak ketakutan  bola api ini akan membakarku menjadi abu.
“Tidak apa, bola api itu hanya pancaran energi darimu. Kalau kita gabungkan semoga kita mampu melawan Leak itu, dan Bli tidak dihantui Leak lagi. Sekarang, fokuskan bola api pada Leak itu,” perintah Balian.
Aku, Nugroho dan Galih saling berpandangan, merasakan panas bola api di tangan kami masing-masing. Tapi kami tak punya pilihan lain, kami berusaha melontarkan bola api itu tepat pada Leak. Tapi ah, meleset! Nyaris mengenal Barong kalau saja Barong itu tidak berkelit dengan gesit. Balian memerintahkan Barong untuk menyingkir sementara aku berusaha lagi berkonsentrasi menciptakan bola api.
“Energi kemarahan, kekecewaan dan kebencian adalah energi yang amat besar. Kumpulkan itu di telapak tanganmu dan buanglah ke arah Leak. Supaya tak tersisa lagi energi negatif di dalam dirimu,” ucap Balian.
Ah, aku telah melampaui malam yang panjang dan melelahkan untuk mengingat kekecewaanku dan rasa sakit hatiku. Pada suatu titik kesadaran aku ingin terlepas, namun bayangnya enggan pergi. Dia terlalu kuat mengikatku dalam suatu khayalanku bahwa suatu saat dia akan kembali padaku. Lelah! Aku ingin melupakannya, memaafkannya. Aku hanya ingin beristirahat dalam kedamaian mimpi dan tidak dihantui mimpi buruk.
“Arghh, cepat!” Kulihat leher Balian dibelit lidah panjang Leak. Aku tercekat ngeri. Bagaimana kalau kulemparkan dan mengenai Balian?
“Fok-k-u-s saja!” ucap Balian di tengah nafasnya yang tercekik.
Aku berusaha berkonsentrasi, mencoba mempercayai Balian akan mampu melepaskan diri. Sebuah bola api sebesar bola basket terbentuk di tanganku. Kulemparkan ke arah sosok Leak dengan sekuat tenaga. Bola api melesat dengan cepat. Sebelum bola apiku sampai, Balian melibas lidah Leak dengan kerisnya. Bola Apiku mengenai Leak dan membakarnya. Dengan cepat Balian menusuk leher Leak itu sehingga kepalanya terpisah dari tubuhnya. Lalu membakar kepala Leak dengan bola apinya. Maka matilah Leak itu. Hangus, tak tersisa… Sisi gelap dari diriku turut lebur…

* * *

Ditulis               : 23 Agustus – 06 September 2011
Dikirim             : Rabu, 14 September 2011
Masuk Nominasi Lomba LMCR-Rohto : Pemenang Karya Favorit No. 44 dari 200
http://www.rayakultura.net/2011/10/nama-pemenang-lmcr-2011-kategori-c/