Saturday, January 11, 2014




What a Small World
Oleh : Lidya Renny Chrisnawaty


            Aroma manis brownies yang baru matang dari oven menerbitkan selera makan Vonny. Dia langsung melompat dari kasurnya, meletakkan novel Breaking Dawnnya di meja belajar. Lalu melesat menuju dapur secepat mungkin.
Di dapur rumahnya yang mungil itu terlihat Mamanya menata potongan brownies yang masih mengepul di sebuah piring keramik berhiaskan ukiran bunga kecil dengan hati-hati. Tangan Vonny terulur, tak tahan ingin mencomot dan mengecap lembutnya brownies itu di mulutnya.
            “Jangan! Ini buat tamu!” sentak Mamanya lalu menampik tangan Vonny. Mengangkat piring itu ke balik punggungnya. Melindungi dari terkaman tangan Vonny.
            “Ah, Mama! Satu aja, pleaseee…” rengek Vonny putus asa. Dia selalu suka kue-kue buatan Mamanya. Tak peduli pada badannya yang mulai melar serupa karet gelang.
            “Vonny! Kamu kan harus diet! Lihat badanmu itu! Nyaris tak berpinggang,” tegur Mamanya.
            Vonny melirik sekilas ke tumpukan lemak di pinggangnya, tapi terkesan tak peduli. Rasanya dia sekarang jadi punya pengelihatan super. Karena dilihatnya dengan tatapan beringas sepiring penuh brownies, menembus badan Mamanya.
            “Ting Tong.” Bunyi bel.
            “Vonny, buka pintu sana.” perintah Mamanya galak.
            “Mama aja deh,” dengus Vonny malas.
            “Kalo Mama yang buka pintu, nanti kamu bakal melahap habis semua brownies ini,” tuduh Mamanya.
            Vonny meleletkan lidahnya. “Makanya serahkan secara terhormat aja, Ma. Aku tidak akan menghabiskannya. Paling hanya tiga biji aja.” Dia nyengir, barisan gigi putih rapi berderet seperti biji jagung.
            “Baiklah.” Mamanya menyerah. Disendoknya tiga buah brownies dan meletakkanya dalam piring kecil. “Nih, sekarang, buka pintunya.”
            Vonny nyengir. Menusuk satu brownies dengan garpu lalu menggigitnya. Hmm manis dan lembut… “Oke, Ma.”
            Vonny terperangah. Di hadapannya berdiri seorang cowok ganteng. Otot-ototnya membayang dibalik kaos tipis yang dikenakannya. Kulit kecoklatannya membuatnya terlihat makin macho dan exotic. Brownies yang dipegang Vonny melayang jatuh sia-sia ke karpet.
            Oh, my God! Ada Jacob Black! Vonny mengucek matanya. Memastikan dia tidak bermimpi. Tapi suara ngebas cowok itu menggugah kesadarannya.
            “Ehm, benarkah ini rumah Ibu Erni?” Cowok itu melirik sekilas ke kertas kecil di tangannya lalu memandang Vonny.
            “Be-nar.” Vonny mengangguk cepat. Gugup. Dan kemudian merasa malu. Dia belum mandi, rambutnya jabrik bak singa, nafasnya sebau nafas naga, dan dia masih memakai piyama kedodoran yang celananya melorot. Oh, no. Dia tiba-tiba merasa menyesal tidak mengindahkan nasehat Mamanya yang selalu menyuruhnya langsung mandi setelah bangun tidur.
“Ma, ada tamu,” teriak Vonny. Dia langsung mundur teratur, tersenyum semanis mungkin pada si ganteng. Memelototin Mamanya lalu melesat ke kamar mandi.
Di kamar mandi Vonny membabi buta. Mandi secepat kilat, lalu dandan. Meng-hairdryer rambutnya lalu mencatoknya supaya selurus air terjun, memoles wajahnya dengan bedak tipis dan lipgloss pink pastel supaya tidak terkesan menor.
Takut sang tamu keren keburu pamit, Vonny langsung menyambar sepotong kaos pink dan celana jeans selutut. Melirik sekilas pada cermin. Lalu dia turun buru-buru dari tangga, sampai nyaris terjengkang. Sampai di anak tangga terakhir, dia melongok dan melihat sang tamu keren masih duduk manis di sofa merah marun di ruang tamunya. Vonny turun dengan gaya sok anggun, bak Tuan Putri kelaperan.
Rega, si tampan rupawan yang ternyata sedang mengunyah brownies itu mengelap tangannya dengan tissue.  “Rega.” Dijabatnya dengan mantap tangan Vonny yang jemarinya mirip bayi-bayi pisang itu.
“Vonny.” Rona merah sewena-sewena membias di kedua pipi bakpao Vonny.
“Rega ini anak temen Papa, Om Handi itu loh. Nah sementara Papa dan Om Handi ada bisnis penting di luar kota selama seminggu, Rega akan tinggal disini,” Mamanya menjelaskan panjang kali lebar sama dengan luas.
What?!! Cowok setampan ini serumah ama aku? Oh, mimpi apa aku semalem? Atau jangan-jangan ini mimpi?! Vonny iseng mencubit pinggangnya sedikit lalu meringis menahan sakit.
* * *
            Arman. Ya cowok itulah yang enam bulan yang lalu mencampakkannya. Tak ada angin, tak ada hujan, matahari pun bersinar ceria kuning keemasan. Eh tapi Arman langsung melontarkan kata putus lalu ngeloyor begitu saja, meninggalkan Vonny yang shock terpaku di tempatnya.
            Malam jomblo pertamanya, Vonny langsung membanjiri bantal bersarung doraemonnya. Menghabiskan tiga rool tissue gulung untuk menyedot ingusnya. Padahal semuanya udah dia lakukan demi mendapatkan perhatian Arman, cowok putih berlesung pipit itu. Dulu rambutnya ikal, tapi mendengar gosip Arman suka cewek berambut air terjun, segera aja Vonny mem-bonding rambutnya. Pun ketika dia mendengar celotehan Arman bahwa dia suka cewek langsing. Vonny langsung diet mati-matian, memakan sayuran hijau setiap hari sampai diejek Mamanya seperti kambing. Fitness sampai tulangnya rasanya patah-patah. Akhirnya Arman memperhatikannya.
Segalanya begitu indahhh sekalii. Arman orangnya baik dan perhatian. Mereka melalui enam bulan masa pacaran dengan sedikit letupan-letupan kecil pertengkaran, itupun selalu dengan cepat berbaikan kembali. Namun pada peringatan enam bulan hari jadian mereka, Arman tega memutuskannya meski seingat Vonny tak ada masalah apa-apa.
            Sejak itu Vonny menggila lagi. Melampiaskan segala emosinya dan kekesalannya pada makanan. Dia terus-menerus makan. Tiap temannya ngajak makan kemana, dia iya-iya aja. Ke Kentucky Fried Chicken oke, ke Mc Donalds ayo aja, ke Pizza Hut yummy. Tak heran tubuhnya malah lebih membengkak dari saat sebelum dia diet demi Arman.
 Sekarang setelah ada sosok tampan di depan mata, dia jadi menyesal kenapa sih merusak dirinya sendiri hanya karena seorang Arman? Okelah Arman ganteng, tinggi, jago basket, tapi juga jago mematahkan hati cewek?! Tapi kata orang kan patah satu tumbuh seribu.
Malam itu juga, Vonny memutuskan akan kembali merawat dirinya. Kata orang dia lumayan manis. Kulitnya juga putih keturunan dari Papanya yang Chinese, tapi matanya bulat seperti Mamanya yang Jawa. So, seharusnya tak akan sulit baginya mencari pengganti Arman, andai saja dia tidak menggembungkan diri seperti balon!
Jemari Vonny asik browsing tips-tips diet terkini. Saking seriusnya, dia tidak mendengar ketukan di pintu kamarnya. Baru begitu ketukan itu terdengar keras, dia sampai terlonjak kaget. Dia menggerutu, mengira Mamanya pasti mau pinjem kuteknya lagi. Dibukanya pintu pelan, Vonny langsung panik karena dia menggenakan daster batik oleh-oleh dari Tantenya saat ke Yogyakarta, yang udah kucel saking seringnya dipakai.
“Eh, ehm, Rega. Ada apa ya?” Vonny menekan suaranya supaya terdengar lembut. Matanya juga sibuk lirak-lirik ke seisi kamarnya. Oh, apakah ada bra tersampir sembarangan? Atau piring dan gelas kotor yang belum dia bawa ke dapur? Oh, untunglah hari ini kamarnya sedang rapi. Biasanya kamarnya seperti habis dilanda Tsunami.
 “Oh, kata Tante kamu punya koleksi CD musik yang keren-keren. Pinjam donk.”
“Boleh aja, pilih aja sendiri.” Vonny menunjuk rak CD-nya di pojok kamarnya.
Rega melangkah ke arah yang ditunjukkan Vonny. Tak sengaja dia menyenggol sebuah bingkai foto di meja kecil.
“Aduh, sorriii…” Rega memungut foto itu dan membaliknya. Dia terperangah. “Loh, Ini kan Arman.”
“Loh, kok kamu kenal?” tanya Vonny heran.
“Iya. Arman kan sepupuku.”
“Hahhhhh!” Vonny langsung mangap selebar mungkin kayak Kuda Nil minta jatah makan. “Dunia sempit sekalii sihhh.”
“Emangnya kenapa?” tanya Rega heran melihat reaksi Vonny yang lebay.
“Dia… dia… kan…” ucap Vonny terbata-bata. Ngaku gak, ngaku gak. Tapi kalo ngaku ntar aku malu di depan Rega karena kesannya aku cewek gak berguna yang dicampakkan begitu aja. Boong apa jujur ya?
“Dia mantan pacarku, aku yang mutus dia soalnya aku bosen sih sama dia,” Vonny akhirnya memutuskan untuk bohong. “Orangnya lama-lama gak asik dan nyebelin.”
“Oh, baguslah! Soalnya dia udah ngerebut pacarku jadinya aku seneng kalo dia juga diputus cewek,” ungkap Rega agak emosi.
“Hahh, ngerebut pacarmu?”
“Iya, kami sempet saling jotos tapi ya udahlah cewekku juga mau sama dia. Entah dipelet apaan tuh si Vivi. Lagian itu juga membuktikan Vivi itu gampang berpaling dariku, jadi buat apa sih aku pertahanin cewek kayak gitu. Bener gak?”
“Oh, bener itu.” Vonny mengangguk-angguk girang.
“Vivi itu cantik dan langsing kayak model. Tapi buat apa kalo kecantikan fisik itu gak dibarengi dengan kecantikan hati. Setelah ini aku gak akan mencari cewek cuman cantik fisiknya aja tapi dia gak setia.”
“Wah benar itu, betul betul betul.” Vonny mengangguk-angguk setuju. “Trus pengennya yang kayak apa?” tanyanya penasaran.
“Hmm… yang pastinya setia,” ungkap Rega. “Dan juga baik hati, murah hati, suka menabung dan tidak sombong,” tambahnya dengan nada bercanda.
“Berarti aku punya kesempatan donk?” goda Vonny.
Rega tersenyum dan mengerling. “Ambil dulu deh formulir pendaftarannya. Isi yang lengkap dengan foto 4 R baru deh aku seleksi.”
“Emangnya audisi?” Vonny mencibir. Rega tersenyum penuh arti.
                                                                  * * *

- Dimuat         : WonderTeen No 303 Bulan November 2013

Thursday, January 2, 2014

Pancake Labu vs Terong



          Aku terobsesi pengen makan pancake labu sejak nonton Drama Korea 'Heart Strings' dan '49 days'. Di Heart Strings Kyu Won membuat pancake labu untuk Lee Shin yang ternyata malah dimakan adiknya.







            Sedangkan di 49 days Ji Hyun digorengkan Ibunya Han Kang pancake labu sambil mengatakan : "Jika kamu sangat mencintai seseorang, meskipun dia salah paham padamu, ada hal yang tidak bisa kamu katakan kepadanya. Karena jika kamu mengatakannya, itu akan melukainya. Mungkin karena cinta, meskipun dia salah paham, kamu tidak perlu menjelaskan tindakanmu. Daripada melukainya, aku lebih memilih dia salah paham."





Diambil dari : http://kadorama-recaps.blogspot.com/2011/05/sinopsis-49-days-episode-20-part-1.html
          Hmmm di film The Moon Embraces The Sun juga ada. Berarti Pancake Labu ini semacam kue tradisional ya. 


          Nah aku jadi penasaran kayak apa pancake labu? Tapi di Indonesia susah juga cari labu yang panjang kayak timun. Adanya labu bulat yang kayak buat Halloween itu loh. Kayak gini :


        Eh tiba-tiba Mamahku membuat cemilan dari terong ungu kayak gini :



           Setelah diiris-iris, dibumbui dan digoreng bentuknya miriiip sama pancake labu di Drama Korea itu. Waaah sejak itu pancake terong ini jadi cemilan favoritku. Nih kayak gini bentuknya :


 
Pancake Terong dihiasi irisan cabe merah




           Bikinnya saaaangaaat mudaaah. Bahannya cuman terong ungu, tepung beras yang dibumbui merica, garam dan sedikit bawang putih. Jadiii dehh cemilan enakk dan murah meriah bahannya. Biar sehat waktu menggoreng minyaknya jangan banyak-banyak yaa.. Soo yummy ;)
Jika kau sangat mencintai seseorang..meskipun dia salah paham padamu, ada hal yang tidak bisa kau katakan padanya. Karena jika kau mengatakannya, itu akan sangat melukai Kang. Mungkin karena itu cinta..meskipun salah paham, kau tidak merasa perlu untuk menjelaskan tindakanmu. Daripada melukainya, aku lebih memilih dia salah paham.

Kadorama-recaps.blogspot.com http://kadorama-recaps.blogspot.com/2011/05/sinopsis-49-days-episode-20-part-1.html
Jika kau sangat mencintai seseorang..meskipun dia salah paham padamu, ada hal yang tidak bisa kau katakan padanya. Karena jika kau mengatakannya, itu akan sangat melukai Kang. Mungkin karena itu cinta..meskipun salah paham, kau tidak merasa perlu untuk menjelaskan tindakanmu. Daripada melukainya, aku lebih memilih dia salah paham.

Kadorama-recaps.blogspot.com http://kadorama-recaps.blogspot.com/2011/05/sinopsis-49-days-episode-20-part-1.html
Ibu Kang : Jika kau sangat mencintai seseorang..meskipun dia salah paham padamu, ada hal yang tidak bisa kau katakan padanya. Karena jika kau mengatakannya, itu akan sangat melukai Kang. Mungkin karena itu cinta..meskipun salah paham, kau tidak merasa perlu untuk menjelaskan tindakanmu. Daripada melukainya, aku lebih memilih dia salah paham.

Kadorama-recaps.blogspot.com http://kadorama-recaps.blogspot.com/2011/05/sinopsis-49-days-episode-20-part-1.html
Ibu Kang : Jika kau sangat mencintai seseorang..meskipun dia salah paham padamu, ada hal yang tidak bisa kau katakan padanya. Karena jika kau mengatakannya, itu akan sangat melukai Kang. Mungkin karena itu cinta..meskipun salah paham, kau tidak merasa perlu untuk menjelaskan tindakanmu. Daripada melukainya, aku lebih memilih dia salah paham.

Kadorama-recaps.blogspot.com http://kadorama-recaps.blogspot.com/2011/05/sinopsis-49-days-episode-20-part-1.html

Naik Kereta dari Jogja ke Solo

         Akhir-akhir ini aku aku ke Solo dan alat transportasi yang paling mudah ya kereta. Dari Jogja ke Solo naik Kereta Prameks, murah...