Saturday, July 19, 2014

Jiva


-Lidya Renny Chrisnawaty-
Langit rebah, kemerahan. Resah, andai bisa kutikam jantung waktu supaya tak kudengar jeritan kekasihku dan teman-temannya melengking kesakitan. Lidah api menari-nari, semakin membesar melahap apa saja yang dilewatinya. Semua sudah terlambat. Aku tak berdaya mencegahnya. Sebut aku pengecut! Karena memang itulah aku! Aku hanya bisa diam terpaku, menyaksikan alam dimusnahkan dengan kejamnya. Kepulan asap meliuk-liuk liar, membumbung ke angkasa. Hawa yang menyesakkan menyelusup ke paru-paru. Kretakan gemeretuk tulang pepohonan terdengar nyaring. Pedih! Sesak!
* * *
Kicauan burung bercuit-cuit terdengar nyaring. Sorot mentari terasa hangat menyapa kulit. Aroma hutan yang segar membius indera penciuman, rimbunan hijau yang memanjakan mata. Sebuah sungai kecil mengalir jernih tak jauh dari deretan pepohonan. Cacing mengeliat di gemburnya tanah yang basah sisa hujan semalam. Sesekali terlihat ular meliuk genit di antara akar pohon. Pagi yang sempurna. Kunikmati sesaat, sebelum suara desing yang memusingkan kepala. Ah bising. Pusing. Pening.
Aji
Ia sungguh jelita. Itu sudah pasti. Aku selalu menyempatkan mengaguminya saat aku sibuk memeras tenaga di antara rimbunnya belantara hutan. Aku memuja rambutnya yang selalu terlihat segar, kulitnya yang kemerahan dan tubuhnya yang langsing padat. Aku berharap tak akan pernah melukainya, bahkan jangan sampai menyentuhnya seujung jari pun. Kubiarkan diriku memendam rindu yang meletup-letup juga hasrat untuk memilikinya. Ini cinta yang tak mungkin tergapai. 
Meranti
Aku mengaguminya. Dia sosok pekerja keras. Setiap hari dia selalu sibuk menghimpun tenaga untuk melibas segalanya. Aku tahu dia terpaksa melakukan itu. Karena cuma itu keahliannya. Aku tak pernah menyalahkannya meski dia harus menyingkirkan teman-temanku dari wilayah ini. Tak ada yang bisa kami lakukan, semua hanya tinggal menunggu waktu sampai dia pun harus mengusirku pergi selamanya.
Aji
“Aji! Ayo, kita harus bekerja keras hari ini! Ada banyak pengusaha besar membutuhkan kayu!” Reksa nyengir lebar. Pasti dia sudah membayangkan kantongnya akan mengembung besar, penuh oleh pundi-pundi uang.
Aku menghela napas. Aku tak pernah menyukai pekerjaan ini. Aku tahu yang kulakukan ini salah. Tapi untuk inilah aku ada, tanpa pekerjaan ini aku bukanlah siapa-siapa. Ini sudah tugasku. Sudah takdirku. Hanya satu hal yang kusukai saat aku berada di hutan sibuk membelah kayu ; menatap Meranti yang jelita.  Aku tahu kita tak akan pernah saling mengucapkan kata. Kadang aku berkhayal, andai aku bisa berlari memelukmu tanpa melukaimu, tentu sudah kulakukan. Aromamu khas dedaunan dan tetesan embun yang menitik dari ujung rambutmu menerbitkan aroma rindu yang lekat.
Letih mendera. Sepanjang hari pekerjaanku selalu sama. Berulang-ulang dan membosankan. Andai saja aku bisa bekerja yang lain tentu sudah kulakukan dari dulu. Impianku sungguh bertolak belakang dari ini. Aku ingin sekali seluruh kota dipenuhi oleh hijaunya tanaman dan pepohonan. Supaya sang air tak memuntahkan dirinya memenuhi jalanan kota. Dan aku sangat ingin Meranti turut bersamaku mewujudkan impianku itu. Tapi semua itu terlalu mustahil.
“Aji, kamu adalah teman sejatiku. Bersama kita akan kaya raya!” Reksa terbahak, membuatku muak. Ingin sekali kukatakan aku lelah bekerja seperti ini! Aku tidak setuju dengan caranya! Tapi aku tak mampu membantah. Aku hanya bisa membisu saat dia menyeretku paksa, membawaku ke tempat dimana aku merasa bahagia sekaligus sedih. Hutan adalah surgaku, sekaligus petaka, karena aku dan Reksa perlahan menghancurkannya hanya demi tumpukan rupiah.
Reksa tak pernah menyadari apa akibat atas perbuatannya di masa mendatang. Dia dan teman-temannya yang lain yang akan rugi dan menuai akibatnya, bahkan sampai ke anak cucu mereka. Meranti… maafkan aku, aku harus menghancurkan lingkungan dimana kamu berada. Aku terpaksa meski jivaku ingin meledak karena amarah dan putus asa.
Ah, tidak ada yang bisa kumintai tolong menghentikan segalanya. Masyarat sekitar hutan ini pun seolah tak peduli. Mereka tergiur dengan iming-iming uang dari Reksa. Mereka juga terpikat oleh berbagai barang elektronik yang dihadiahkan Reksa kepada mereka. Aku? Sekali lagi hanya bisa diam membisu, menatap semua dengan mata perih. Hatiku serasa tersayat-sayat menyaksikan Meranti menatapku nanar. Ia menitikkan airmata kepedihan. Ia berduka. Kesedihannya adalah kepedihan besar bagiku. Lukanya adalah perihku.  
Desing. Desing. Pusing. Pening. Aku ingin berteriak sekuat tenaga. Hentikan! Stop! Tapi Reksa tidak mau tahu. Seringai licik selalu menghiasi wajahnya, tak dia pedulikan panas matahari yang membakar kulit sawo matangnya. Dia sibuk memberi perintah kepadaku, kepada temannya yang lain. Bibirnya yang menghitam terus menghisap rokok, dilemparkannya sembarangan dengan sisa api yang masih meletik di ujungnya. Andai bisa kudengar suara sang tanah tentu dia akan memekik panas, panas, panas!
* * *
Hawa panas berpedar, keringat membuncah dari wajah Reksa. Dia terus menyeka dengan sapu tangan yang tak lagi berwarna putih. Senyumnya sumringah. Sebuah jeep hijau lumut berhenti di hadapan kami. Seorang pria gemuk berkumis tebal meloncat turun, menjabat tangan Reksa erat. Tawa mereka berdua meledak bersahutan dengan desing suara mesin.
“Ya, ya, jangan khawatir, Pak. Semuanya akan lancar. Tidak akan ketahuan. Lihat sendiri, sudah lima tahun saya lakukan ini. Dan saya tidak sekali pun pernah tertangkap!” ucap Reksa bangga, membusungkan dadanya.
“Baik. Saya percaya padamu. Saya akan segera mentransfer sejumlah yang kamu minta,” Pria gemuk itu mengangguk-angguk.
Senyum Reksa semakin lebar. Binar matanya memancarkan semangat tinggi. “Baik, akan segera saya siapkan!”
Firasatku tak enak. Jantungku berdentum-dentum nyaring. Aku menoleh ke arah Meranti yang selalu elok menawan. Namun wajahnya tampak berduka, pucat pasi, bahkan seperti ingin segera menumpahkan airmata. Ada apa? Kenapa? Apakah air sungai tak lagi memuaskan dahagamu? Ataukah tanah tak mampu lagi mengenyangkan perutmu?
“Bagaimana Parto? Sudah kamu siapkan alatnya?” Reksa menghampiri sosok pekerja bertubuh kurus dan berkulit legam arang.
“Sudah, Pak Reksa. Hari ini pasti selesai!” Parto mengangguk yakin.
“Bagus! Saya akan memberimu bonus yang banyak!”
Wajah Parto cerah, senyumnya merekah. Khayalannya pasti sudah meluap kemana-mana. Dengan bonus itu dia bisa memanjakan istrinya berbelanja pakaian dan kosmetik, juga mainan untuk anaknya. Oh andai dia bisa mendengar, semua itu harus dibayar alam dengan tangisan kesakitan.
Mereka, Reksa dan Parto juga para pengusaha akan membayar atas perbuatan mereka. Mereka pikir alam tak punya rasa? Juga kehendak? Mereka pikir alam bebas dipermainkan begitu saja? Aku geram, mereka memaksaku untuk melukai Meranti. Mereka dibayar mahal untuk menebas Meranti hingga ke akar-akarnya. Bahkan tak hanya Meranti, seluruh isi hutan ini akan dimusnahkan. Pria gendut tadi adalah seorang pengusaha besar, dia ingin membangun perumahan juga mall.
Meranti, maafkan aku. Aku pun menjerit putus asa atas tingkah mereka, manusia tak tahu diuntung! Hutan memberi mereka oksigen segar untuk bernapas, melindungi dari luapan air tapi mereka menyingkirkannya begitu saja hanya demi kemewahan yang megah.
“Aji! Aku tak memerlukanmu lagi. Setelah seluruh Meranti terjual, aku akan membakar seluruh hutan ini. Aku akan kaya raya. Aku akan berbisnis property!”
Aku mendengus tak peduli. Keberadaanku sekarang memang tak berguna lagi. Meranti yang kucintai pun telah kumutilasi dengan kejam. Untuk apakah aku menghirup napas dunia yang tak lagi ramah? Aku bersedia hancur lebur bersama Meranti dan hutan yang kucintai ini. Aku sungguh berharap jika aku terlahir kembali menjadi manusia, ‘kan kurawat alam ini dengan sepenuh cinta, jiwa dan raga. Jika aku terlahir kembali menjadi kupu-kupu, ijinkanlah aku menyesap manisnya madu bunga tanpa melukainya.
Aku adalah jiva gergaji mesin yang mencintai pohon Meranti yang jelita, salahkah? Reksa menamaiku Aji, seperti halnya manusia lain menyebut barang-barang kesayangan mereka. Awalnya dia senantiasa merawatku, melumasiku supaya taringku cukup tajam untuk menyobek setiap raga dan tulang pepohonan.
Seperti juga manusia, setiap benda dianugerahkan jiva oleh sang pencipta. Akhirnya berakhir sudah kini. Jivaku dan Meranti melayang-layang tanpa arah, sampai akhirnya kami bertemu di satu titik penentuan. Kuulurkan tanganku kepadanya. Ia tersenyum, meski luka jelas tercetak di wajahnya. Ia masih begitu muda, belum dua puluh tahun bertumbuh di alamnya, namun kini ia harus terpental keluar dari tubuhnya.
Kami bergandengan tangan, meski aku sebenarnya tak layak berada disisinya. Aku adalah sosok yang turut menghabisinya, namun ia tak membenciku sama sekali. Dia mampu menyelami sosok jivaku yang murni, keinginan terdalamku untuk melindunginya. Meski aku tak berdaya, karena di dunia nyata, aku adalah sosok yang harus digerakkan orang lain, aku tanpa kehendak.
Jivaku dan jiva Meranti terbang mengangkasa, meninggalkan letupan-letupan kematian yang dijilati lidah-lidah merah raksasa. Kesesakkan menyebar ke angkasa. Ribuan manusia terbatuk-batuk, kabut asap mencekik napas mereka. Satwa liar berlarian saling bertubrukan, mereka terbakar hidup-hidup, daging, tulang dan darah hancur lebur bersama. Paru-paru bumi ini mulai rusak, manusia berada di ujung kehancuran mereka sendiri.
Jivaku dan jiva Meranti kini abadi. Kami tak bisa dihancurkan lagi. Kami menoleh sebelum mengangkasa meninggalkan bumi. Hati kami pedih menyaksikan lidah-lidah merah raksasa merajalela melahap segala yang dulunya hijau. Kami berdoa semoga kelak manusia sadar mereka membangun rumah mereka di atas pasir penderitaan alam. Dan alam tak akan tinggal diam. Manusia ingin selalu selamat dan berlimpah segalanya, tapi mereka lupa, tugas mereka adalah menjaga bumi tempat mereka tinggal.
Gigiku bergemeretak. Genggaman tangan Meranti semakin erat di tanganku. Ia tersenyum, seolah memintaku memaafkan mereka. Aku hanya bisa memejamkan mata, menahan hasrat untuk tidak mengutuk mereka. Namun entah kenapa aku bisa melihat, tak lama lagi lempengan-lempengan bumi akan bergeser, manusia menyebutnya gempa. Gunung memuntahkan isi perutnya, manusia berlarian menghindari abu dan magma. Air berhamburan menuju daerah pemukiman manusia. Aku tercekat ngeri. Tidak! Meski manusia tak tahu diuntung, aku mendoakan supaya damai senantiasa melingkupi mereka. Amarah yang menguasaiku kembali redup. Jivaku kini putih bersih, seperti selembar kertas yang belum ternoda tinta. Cintailah bumi ini, cuman itu harapanku pada manusia. Semoga mereka mau mendengar…
* * * 
Ditulis 15-21 Februari 2014

Enough is Enough




-Lidya Renny Chrisnawaty-

Ketukan high heelsku berhenti. Aku mendongak, menatap gedung bertingkat dua di hadapanku. Mulai hari ini, gedung berpintu kaca itu akan menjadi tempatku menenggelamkan diri dalam timbunan pekerjaan. Itulah yang kuperlukan, supaya aku tidak lagi mengisi kekosongan hariku dengan meneguk bercangkir-cangkir kopi lalu menangisi dirinya. Enough is enough! Time to move on.
I’m ready!  Aku kembali melangkahkan kakiku menuju pintu samping khusus karyawan Bank. Seorang security berdiri di depan pintu, membelakangiku. Tampaknya dia tidak menyadari kehadiranku.
“Selamat pagi, Pak…” sapaku.
Security itu menoleh, pelan, tapi langsung membuat jantungku seolah tertahan sedetik, kemudian melaju dengan kecepatan tinggi.
Oh tidak. Tenanglah, Lisa. Enough, jangan pikirkan soal cinta lagi. Abaikan alis mata tebal, bola mata tajam sewarna kayu, hidung mancung dan bibir menggemaskan itu! Kamu ada disini untuk bekerja, sekeras yang kamu bisa! Pikiranku sibuk komat-kamit.
“Selamat pagi, Bu… anda karyawan baru?” Dia tersenyum, membuatnya semakin terlihat ganteng. Kuperkirakan usianya baru dua puluh lima tahun. Oh, abaikan, Lisa. Dia bahkan lebih muda darimu.
Aku menegakkan badan. Berusaha tampak tenang sekaligus anggun.
“Ya, perkenalkan nama saya Lisa. Saya pindahan dari cabang Jakarta.” Kuulurkan tanganku kepadanya.
“Jakarta? Bukankah kesempatan berkarier disana lebih luas? Kenapa anda mau dipindahkan ke Jogja?” Dia menyambut uluran tanganku dengan mantap.  Hangat.
“Mencari suasana baru, Pak,” jawabku selembut mungkin. Well, aku tidak mungkin mengatakan alasanku kabur dari Jakarta karena patah hati kan?
“Ah, ya nama saya Yoga. Saya baru setahun bekerja disini. Panggil Mas Yoga saja ya? Jangan Pak. Saya kan masih single.” Yoga mengerling, lagi-lagi mempersembahkan senyumnya yang melumerkan hati.
“Okey, kalau begitu saya masuk dulu, Mas Yoga,” ucapku.
“Silahkan, Bu Lisa.” Yoga terlihat mengamati tanganku. Cincin pertunangan memang sudah kusingkirkan. Tapi aku sengaja menggantinya dengan cincin emas yang tidak kalah cantik dengan pemberian si pria breng… engg.. mantanku maksudku. Supaya orang pasti mengira aku sudah bertunangan atau menikah, dengan begitu para pria disini akan menjaga jarak dariku. Tertutup sudah pintu hatiku sejak…
“Bu Lisa?” ucapan Yoga membuyarkan lamunanku mengingat kenangan menyakitkan itu.
“Ah, selamat bekerja, Mas Yoga.” Aku mulai memasuki pintu.
“Selamat bekerja juga, Bu Lisa. Semoga betah disini.” Yoga tersenyum dan menghormat.
Aku membalasnya dengan senyum miris. Ya semoga saja. Kurapikan seragamku ; blazer biru, kemeja putih dan rok selutut biru. Kuambil kaca dari dalam tas. Kupastikan rambutku tersanggul rapi, make-upku sempurna lalu melangkah mantap ke dalam. Yap, aku siap melayani nasabah! Meski hatiku belum tertata kembali dan masih ada luka menganga disana, tapi aku tetap harus sabar, tersenyum ramah, lembut dan santun pada nasabah.
Time to work!
* * *
    Letih! Letih! Begitu sampai di rumah aku melempar tubuhku ke sofa empuk. Sekilas mataku menangkap berbagai pemandangan yang kubenci ; beberapa buku berserakkan di lantai, di meja ada bungkus snack dan kaleng softdrink, juga kaus tersampir di kursi. Aku menutup mataku, memilih mengabaikannya.
Celakanya, aku malah jadi teringat kejadian tiga bulan yang lalu.
“Apa kamu akan selalu begitu?” Ricky menatapku tajam.
“Apa?” tanyaku, tidak mengerti.
“Menata barang-barang berulang-ulang, mengecek pintu berkali-kali saat kita akan pergi, mencuci tanganmu terus-menerus saat kita akan makan, menata semua benda sesuai jenis dan warna.  Kamu banyak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting” Ricky tertawa tapi sinis.
“Ricky, kamu kan sudah tahu kebiasaan itu sejak dulu?” Aku terpanjat, kenapa dia tiba-tiba mempermasalahkannya?
“Kamu seperti orang kecanduan saja. Aku tau kamu OCD tapi aku tidak suka kamu mengomeliku saat meletakkan cangkir sembarangan, menyampirkan baju di sofa atau terus memerintahku untuk selalu mencuci tangan! Aku bukan anak kecil!” Kini Ricky terlihat geram.
“Ricky, aku memang OCD tapi aku kira kamu bisa menerimanya…” ucapku sedih.
“Tidak. Aku sudah berusaha bertahan selama ini. Aku letih melihatmu terus begitu.” Ricky menggeleng. “Sudah cukup. Aku tidak berani membayangkan jika kita menikah dan terus meributkan hal kecil yang selalu kamu lakukan. Kita putus saja.”
Aku mengerjapkan mata. Setitik air bening meluncur turun dari mataku. Jemariku gemetar.
“Putus? Tapi kita sudah bertunangan.” Aku mengusap cincin di jariku.
“Kita batalkan saja. Cincin itu… boleh kamu simpan. Besok  kamu kembali ke apartemenmu,” ucap Ricky dingin.
Aku terpanjat. Seminggu yang lalu, dia memintaku pindah ke apartemennya karena kami akan segera menikah akhir tahun. Kini dia memutuskanku dan mengusirku?
“Ricky… aku mohon beri aku waktu untuk berubah.” Airmataku merebak, menetes-netes seiring dengan terlukanya hatiku. Aku mencoba meraihnya untuk memeluknya tapi dia mendorongku menjauh. Tampaknya sudah tidak tersisa lagi cinta untukku di hatinya. Karena aku OCD? Oh tidak, pasti ada alasan lain.
“Kamu tidak bisa berubah, Lisa…” Ricky menggeleng.
“Apa ada wanita lain?” tuduhku, menggigit bibirku kuat sehingga rasanya akan berdarah.
“Kita tidak cocok lagi. Cuma itu.” Ricky menghindari tatapanku.
“Baiklah. Cukup. Aku tidak akan memohon padamu lagi. Aku akan segera pindah. Bahkan malam ini juga! Besok aku juga akan minta dipindahkan ke cabang lain. Aku tidak bisa bekerja bersamamu dalam satu ruangan lagi!” teriakku penuh amarah.
“Terserah.” Ricky bahkan tidak peduli. Dia meraih jaketnya lalu membanting pintu.
Hubungan kami selama tiga tahun runtuh dalam waktu singkat, kurang dari satu jam. Aku lunglai, menangis dan menjerit tidak karuan. Perasaan marah, sedih, kecewa, terluka bercampur aduk menjadi satu. Tapi aku tidak sudi direndahkan olehnya.
Aku mengusap airmataku, mulai memberesi barang-barangku. Tak lama hanya ada koper besar berisi pakaian, make up, sepatu dan bingkai foto. Aku meraih beberapa bingkai foto berisi foto kami berdua yang terlihat bahagia. Dulu aku suka mengusapnya atau menciumnya sambil tersenyum penuh cinta. Sekarang cuma amarah dan kebencian yang kurasakan. Aku membanting foto itu hingga serpihan kacanya berserakkan di karpet Ricky yang indah dan mahal - yang katanya dibelinya di Turki.
“Rasakan! Biar saja kakinya menginjak kaca ini sehingga dia turut merasakan sakitnya hatiku!” umpatku.
Aku juga merobek-robek foto-foto kami menjadi serpihan dan menyebarkannya ke karpet. Sebut saja aku sudah gila! Tapi aku memang sangat terluka. Aku juga menghamburkan ke karpet semua yang pernah dibelikan Ricky untukku.
Ah, lihatlah jam tangan Rolex yang dibelikannya saat anniversary kami yang pertama, kini aku menginjaknya dengan ujung high heelsku sampai retak. Baju-baju bermerek yang dibelikannya setiap kami ke mall atau dia keluar negeri kugunting-gunting dan kutebarkan di sofa.
Terakhir… aku menatap tajam pada cincin yang melingkar di jariku. Begitu cantik, berkilau dan pas. Sempurna. Perlukah kubuang? Sejenak aku ragu. Tapi kumantapkan hati, kulepas dan kulemparkan ke kaca. Cincin itu berdenting lalu terjatuh di lantai. Biarlah, tidak perlu kurusak. Dia boleh memberikannya kepada wanita barunya.
Aku menegakkan tubuh. Menahan kuat airmataku supaya tidak meluncur lagi. Kutinggalkan apartemennya, menyeret koperku, sendirian. Aku OCD katamu? Memang.  Tapi aku pun bisa membuat semuanya menjadi berantakan!
* * *
Aku tertidur di sofa setelah ingatanku memutar kenangan perpisahan dengan Ricky. Aku terbangun pukul tiga pagi, merasakan kerongkonganku kering. Setelah meneguk air dari kulkas, aku merasa lega. Terhuyung-huyung aku menuju ke kamarku, mengganti seragam kerjaku dengan baju tidur lalu merebahkan diri di kasur.
Aku menatap langit-langit kamar. Masih terbayang wajah tampan Ricky disana. Masih melekat pertemuan kami sebagai teller dan finance manager di sebuah Bank terkenal.  Tawa kami saat bersama pun seolah masih melekat erat di telingaku. Orang bijak bilang, waktu akan menyembuhkan luka. Baiklah, biarlah semua terlupakan dengan sendirinya. Aku pun terlelap.

* * *

Gila! Ini hari kedua dan aku nyaris terlambat. Buru-buru aku menghentikan montorku di parkiran dan berlari ke Gedung Bank. Yoga masih berjaga di pintu masuk karyawan saat pagi, kali ini dia melihatku berlari lalu tersenyum.
“Selamat pagi, Bu Lisa!” sapa Yoga penuh semangat.
“Selamat pagi juga, Mas Yoga. Saya telat ya?” ucapku sedikit terengah.
Yoga menatap jam di pergelangan tangannya. “Nyaris. Tapi saya rasa morning briefing belum dimulai.”
“Okey,  saya masuk dulu.” Aku melangkah menuju pintu.
“Bu, tunggu.”
“Ya?” Aku menoleh.
Aku terpanjat. Wajah Yoga mendekat. Tangannya meraih rambut yang menjuntai ke wajahku. Dia merapikannya. Hatiku berdesir.
“Sanggulnya sedikit tidak rapi, Bu.” Yoga tersenyum, tatapan matanya melelehkan hatiku. Wangi parfum beraroma kayu tercium lembut.
“Terima kasih,” kataku gugup. Aku melangkah masuk agak tergesa sambil meraih cermin dari dalam tas dan mengaca.
Pukul delapan tepat, aku sudah bersiap di depan meja teller. Aku melirik pintu. Beberapa nasabah bersiap masuk, terlihat dari pintu kaca. Yoga dengan sigap membukakan pintu dan menyapa mereka ramah. Seragam security-nya terlihat rapi dan bersih. I wonder siapa yang telah mencuci dan menyetrikakan untuknya? Istrinya? Tapi sepertinya tidak ada cincin melingkar di jarinya.
Seorang nasabah ibu gemuk masuk terburu-buru, bahkan tidak memperdulikan sapaan Yoga. Makeupnya menor, dia berdiri di depan mejaku. Wajahnya terlihat kesal.
“Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?” sapaku ramah.
“Mbak! Saya sudah menunggu di luar sepuluh menit. Saya itu buru-buru loh. Saya harus jemput anak sekolah, arisan berlian dan bisnis fashion. Saya itu sangat sibuk, jadi waktu berharga buat saya!” omel ibu gemuk ketus. Dia seperti toko perhiasan berjalan karena kalung, gelang dan cincin yang dia pakai.
“Begini, Bu, kami buka jam delapan… jadi…” Aku berusaha sabar menghadapinya.
“Saya tidak mau tahu! Saya…”
“Permisi, Bu? Ada apa ya?” Yoga mendekat ke kami.
Ibu itu langsung mengamati Yoga lekat. Bola matanya bersinar dan senyumnya tiba-tiba merekah.  Suaranya pun berubah lembut.
“Tidak apa-apa, Mas. Saya tadi hanya agak kesal sudah menunggu lama di luar.” Pandangan mata ibu itu tak lepas dari wajah Yoga. Sebenarnya aku pun begitu. Aku cukup heran kenapa pria seganteng dan segagah dia tidak melamar menjadi foto model saja.
Yoga tersenyum. “Begini, Bu. Bank kami buka pukul delapan tepat jadi bila Ibu datang sebelum itu, mohon maaf Ibu harus menunggu.”
“Ya, tidak apa. Ngomong-ngomong Masnya ganteng banget, mau bekerja di tempat saya tidak, Mas?” ucap si ibu agak genit. Tangannya membelai lengan Yoga yang lumayan berotot.
“Maaf, Bu. Saya senang bekerja disini. Terima kasih tawarannya. Nah silahkan melanjutkan transaksi Ibu,” ucap Yoga ramah lalu kembali ke posisinya di dekat tangga, menyapa nasabah-nasabah yang masuk dan membantu mereka jika perlu bantuan.
“Sayang banget ya, Mbak.  Masak pria seganteng itu jadi security, saya bisa menggajinya lebih banyak loh.” Ibu itu geleng-geleng lalu menyerahkan setumpuk uang kepadaku.
Aku memilih tidak berkomentar. “Saya hitung dulu uangnya ya, Bu. Mohon tunggu sebentar.” Aku meletakkan uang di mesin penghitung uang. Aku melirik ibu itu, dia tidak tampak kesal harus menunggu. Malah dia sedang memperhatikan Yoga dengan tatapan kagum. Aku tersenyum geli, Yoga punya fans tampaknya.

* * *

Aku tidak tahu bagaimana awalnya, perlahan, tanpa kusadari aku sering tidak sengaja memperhatikan Yoga. Kupergoki dia juga sering mencuri pandang padaku. Susah sekali menolak pesonanya. Sebulan kemudian aku sudah terjerat olehnya. Setelah berkali-kali menolak setiap diajak makan bersama, akhirnya aku setuju.
Sabtu sore, Yoga membelah keramaian Malioboro denganku yang duduk manis di boncengan montor RX King-nya. Dia mengajakku ke Oyot Godhong, tempat makan di lantai tiga Mirota Batik. Kalau saja aku hanya wisatawan dari Jakarta yang berkunjung ke Jogja untuk beberapa hari, pasti aku akan menggila membeli berbagai oleh-oleh unik seperti batik, gelang, gantungan kunci, lampu kuno dan berbagai barang khas Jogja dan vintage lainnya di Mirota Batik.
“Sebenarnya ini bukan restoran tapi ruang tunggu untuk pembeli Mirota Batik. Tapi makanan disini enak dan murah,” kata Yoga, tertawa.
Aku tersenyum, menangkap kesan bahwa dia bukannya pelit tapi apa adanya, sederhana. Kami melepas sepatu dan duduk dengan meja kecil dan bantal. Setelah membolak-balik buku menu, aku memesan bakmi Jawa goreng dan es beras kencur atas rekomendasi Yoga. Sementara dia memesan nasi gudeg telur dan wedhang jahe. Tak sampai lima belas menit, pesanan kami tersaji.
“Bagaimana kamu tahu kalau aku belum menikah padahal ada cincin di jariku?” tanyaku heran.
“Kamu tidak pernah terlihat menelpon seseorang. Yah hanya feelingku saja sih,” Yoga tertawa, memperlihatkan deretan putih rapi. “Aku tertarik sejak pandangan pertama padamu…”
“Kenapa? Ada banyak sekali teller cantik dan muda, mungkin seumuranmu. Lagian aku OCD,” ucapku malu.
“OCD? Apa itu? Oh Capek Deh?” Yoga tergelak.
Obsessive Compulsive Disorder. Itu tidak main-main, Yoga. Alasan itu yang membuat tunanganku memutuskanku.” Aku mengeryit.
“Hmm… not good reason. But no problem for me.”
“Aku suka ngomel jika barang berantakan.”
“Aku bisa menerimanya.”
“Aku sering menghabiskan waktu menata barang sesuai warna dan jenis. Aku suka mencuci tangan berulang-ulang.”
“Okey, itu baik. Rumah akan jadi rapi dan bersih. Aku janji tidak akan protes. Nah sekarang boleh aku memanggilmu ‘Lisa’ atau ‘sayang’?”
“Tapi aku lebih tua darimu tiga tahun?” protesku.
“Lisa, enough now. I don’t care. Maukah kamu jadi kekasihku? Jawab saja, Yes or no ?” Yoga tersenyum lalu mendekatkan wajahnya padaku.
Wajahku memerah. Apakah Yoga the one? “Yes…”
Enough for me.” Yoga meraih tanganku, menggenggamnya lembut.
Rasanya aku melebur menjadi cahaya. Aku punya dia, yang akan mencintaiku just the way I am. Aku, apa adanya.

* * *
Ditulis Minggu, 11 Mei 2014 22:57

Naik Kereta dari Jogja ke Solo

         Akhir-akhir ini aku aku ke Solo dan alat transportasi yang paling mudah ya kereta. Dari Jogja ke Solo naik Kereta Prameks, murah...